Abstract Painting, “3 VS 1”

CC ABS 1

My composition today, “3 vs 1”, oil on canvas, 70cm X 90cm, September 2014.

Advertisements

Ikutkan 2 Lukisan di A(rt)SEM 2010

Setelah menimbang berbagai aspek, akhirnya saya memilih lukisan “Forced to be One-voiced” (Perjalanan Wajah dan Omongan Kentut) dan “Cakrabumi” untuk diikutkan pada pameran A(rt)SEM 2010, yang akan diadakan mulai 10 Desember 2010 sampai 31 Januari 2011 di Semarang.

Forced to be One Voiced, Moses F, 2009, Oil on Canvas

Forced to be One Voiced, Moses F, 2009, Oil on Canvas

Judul lain lukisan ini adalah “Perjalanan Wajah dan Omongan Kentut”. Lukisan ini berkisah tentang Pemilu 2009 di Indonesia. Wajah para tokoh berjalan-jalan kemana-mana di baliho, kaos, kalender, stiker, dan lain-lain. Sementara para juru kampanye sang tokoh, berpidato mengumbar janji dan memuji-muji tokoh junjungannya.

Cakra Bumi, Oil on Canvas, 90cm X 90cm, 2008

Cakra Bumi, Oil on Canvas, 90cm X 90cm, 2008

Sementara lukisan kedua berthema kesadaran akan kefanaan dan kekurangan diri sendiri, berangkat dari sebuah puisi berjudul sama.

karena dunia adalah fana
waktu terus berjalan
angin bertiup
daun berguguran
manusia semakin busuk
saat hidup dan setelah mati
semakin hari
forever and ever till the end of time

Kedua lukisan ini saya pilih agar sesuai dengan maksud diadakannya art-event ini. Mengutip ulasan Panitia & penggagas yang saya tangkap sebagai pokok pikiran utama A(rt(SEM 2010, sebagai berikut:
“… Tak hanya menyuguhkan hasil visual, terpenting juga mengelola proses gagasan hingga pencapaiannya.
Dengan seni mendampingi kebaruan yang terus berkembang. Aktif bersinggungan dengan public beserta pembacaan akan konflik didalamnya. Konflik ini diartikan sebagai perbedaan pola pikir manusia dalam upaya melahirkan kebaruan. Disisi lain konflik bisa berakibat fatal berbentuk anarki. Kondisi tersebut sering kita saksikan diberbagai media, baik lokal maupun internasional. Walau menurut perjalanan ideologi, anarki adalah kewajaran proses menuju kebaruan, sebagai warga yang berbudaya, kiranya lebih baik berupaya sesingkat mungkin memiliki kesadaran menuju hidup harmonis. Harmonis adalah kebiasaan publik yang bisa dilanggengkan. Selain sebagai solusi hidup damai, juga sebagai identitas berbentuk local culture semisal bagi sebuah kota. Semarang dengan multikultural etnis adalah contoh dalam hidup secara harmonis. Boleh beragam tidak untuk diseragamkan. Demi kenyamanan hidup, terbuka dengan menghargai segala macam perbedaan.”

Ungaran, 20 Nopember 2010

SELAMAT TAHUN BARU

LIVE LIFE, LEAVE LIFE, LOVE LIFE, LAUGH LIFE

Ester, my lovely wifey wife

Ester, my wizard wife...

(to EVT, my lovely love, by mosesforesto, my own mirror due to my own 2009 reflection)

each life got its own dimensions,

with almost no directions

too many edges

each has its own good faces & faeces

each consist of its own way

differ and deeper day by day

each has its own different roles

to catch the ultimate goals or just useless holes

reached or failed, just go on, let it flow

take your time wait for the blow

let the past be forgotten, here comes the brand new daylight

lapah muntung tekait-kait tepulilit, kejepit-kecetit

he he he ho ho ho

let it go, let it go

cukup!

KUMPULAN PUISI MOSES FORESTO OKTOBER 2006-JANUARI 2007

Bapak

Bapak

SELAMAT JALAN PAK’E
(Puisi untuk ayah tercinta, R. Widagdo Kadyopranoto)

Tenanglah Kini Hatiku, lantunan terakhir buat bapak
Tanganmu dipegang teguh, Tuhan Yesus besertamu
Detik demi detik, maut mendekat, bapak tak lemah tak jua lelah berserah
Ajal menjelang, Mazmur berkumandang

Sengat maut musnah sudah
Tebusan Yesus tunai punah
Kelemahan duniawi lalu
Kekuatan surgawi berlaku

Otot susut, tulang menonjol
Kristus berseri-seri di binar mata menahan nyeri
Ragamu mengkerut, sakit tak terperi
Dalam lemah kuasaNya kian nyata

Terimakasih, Tuhan Yesus, terimakasih ya Bapa Surgawi
Puji Syukur bagi Yesus, kau pakai bapak jadi saksi
Teladan pahlawan iman tak surut oleh deraan ragawi
Kemenangan iman hingga tarikan nafas terhenti

Takkan perlawanan berakhir hingga Yesus memanggil
Kuat berdiri hingga gerbang rumah Raja
Sejahtera kekal buah laku adil
Pahlawan kami kini di surga

KEBANGGAAN

Terimakasih Tuhan Yesus, aku bahagia… aku bangga akan Engkau
Artiku tiada, maknaku tiada, kecuali Engkau
Layak aku lenyap, layak aku tiada, adaku hanya karena Kau
DuniaMu lebih pantas tanpaku

Terimakasih untuk dukacita dariMu, s’bab sejahteraku sejati olehMu
Melimpah energi abadi, mana? Minta! Minta! Beri aku Tuhanku, berilah sedikit untukku
Dustaku mati, kenapa aku mesti ikut mati?
Kenapa ku lari? Terus membeku dan tak peduli?

Lentera hidup, tanah bergerak
Pelita hati, batu karang retak
Mentari jiwa, jam berdetak
Mata tertutup, kepalaku meledak. Cemar!

AMIN, TERJAWAB

Waktunya tepat!
Jumlahnya benar!
Tekunku salah …
Sabarku hilang …

Perihal terjawab, adalah kesipan hatiku
Perihal tepat, adalah penyerahanku
Perihal mendapat, adalah ucapan syukurku
Perihal kepastian, adalah Engkau, sukacitaku

Ampun… ya ampun …
Aku yang menunda, aku pula menunggu

Saat terjawab kala ku bergegas pergi
Ternyata, oh Tuhan, ya… ampun… ampun…

KUSTA DAN BUTA

Aku si kusta dan aku si buta
Bukannya aku belum dijamah hingga sembuh
Sudah aku sembuh…
Sudah pula kudiberkati …

Sembuh membuatku najis…
Berkat membuatku buta …
Tahir membuatku sombong …
Melihat membuatku sesat …

PEMULIHAN

Melesak, menggebu, menggelegak
Menanti panen meledak dosa disemai
Berbunga berbuah hidangan mata jiwa
Daki menyusupi pori-pori

Sumbang nyanyian nurani
Batin merintih, kalah
Meletup mendidih, mendera amarah
Sejahteraku mati tak lagi suci

Pedih perih sayatan di biji mata
Berayun martil menghantam pelipis
Tak lagi tangguh berjaga di gerbang
Minyak kemana? pelita remuk

Tabah mendekat api
Sampah terbakar, ngengat dimurnikan tanpa sayap

SALEH KAIN GOMBAL

Kami yang suci berlutut berderet-deret menyebut namaMu
Air mata berlinang namaMu dikenang
Ooohhh inilah kami yang alim dan saleh…

Kami memuji, kompak dan merdu …
Kami lah pembersih gerejaMu
Kami lah saksi-saksiMu

Jiwa kami lapar mengais sampah
Saatnya berebut tahi dengan anjing dan lalat
Apa itu keselamatan? Apa itu kelaparan?

Lapar itu perih, hina itu biasa
Sumpah serapah itu pujian yang jujur
Jika pagi ini tak binasa, selamat sudah sehari

DIALOG DENGAN NURANI

Hey, aku. Ya, kau. Kau bejana rusak, memalukan!
Aku, kau memang tak berguna
Kau, jangan aku memaki aku lagi
Aku, kenapa kau tak mengaku?
Kau, baiklah aku mengaku, kau jadi saksiku

Baik, aku memang memalukan, lalu apa mauku, kau?
Bukan, kaulah mauku.
Baik, kita memang duet serasi
Tidak, kau harus dihancurkan dulu

Duet kita tak pernah lengkap
Berdua takkan mampu
Hanya kau yang adalah aku, dan aku yang adalah kau
Tak cukup, harus ada Dia agar bejana kita jadi

GAYA TARIK SURGA

Hidupku dalam gaya tarik bumi
Melawan, melangkahkan kaki ke atas
Jatuh jauh kakiku melangkah terus
Oh, gravitasi bumi…
Mana gravitasi surga …

TAHUKAH AKU, KETAHUILAH OLEHMU

Seandainya kupunya otak, kan kubor kepalaku
Seandainya kupunya nyali, kusuntikkan ke dalam hatiku
Kutanam dalam-dalam di kepala dan hatiku
Bahwa kupercaya kepadaMu
(Sayangnya, aku bodoh dan tak bernyali…)

Daud melayangkan matanya ke gunung-gunung
Daud tahu pertolongan datang dariMu
Daud tahu, aku pun tahu
Daud percaya, aku pun percaya
(Sayangnya, Daud berani dan aku gentar)

Pada tahtaMu saja aku berharap
Jangan lagi aku bodoh
Berikan aku nyali
Jadikan aku berani, tak gentar meniru Daud

BUSUK DAN MUNAFIK; ITULAH AKU!

Tanpa syarat dan tanya
Tanpa logika tanpa andai-andai
Terima semua tanpa menduga
Siapakah manusia?

Kardus bekas sisikan sampah
Tambahkan air comberan dan perut ikan busuk
Bungkus dengan jubah ungu
Selimuti lenan bertanda salib

Ooohhh… pembungkusku indah mewah
Tampaknya harum mewangi terang gemerlap
Mendebarkan hati menggugah rasa
Maju, majulah pahlawan kebanggaan dunia

Bujuklah semua, busukkan semua
Buahi semua, sengat semua
Perbanyak nanah, perbesar luka
Panggil bangkai lainnya

Terus, larilah lari
Lelah kaki seret lutut
Biarkan terluka
Teruslah menjauh, cobalah terus menjauh!

Yesus takkan menyerah
Yesus pasti datang menjamah
Pasti sembuh
Pasti selamat.

MELUKIS ITU NIKMAAAAATTTTT

This slideshow requires JavaScript.

Saat paling nikmat adalah saat melukis. Tak ada kenikmatan yang sebanding berkhayal dan mewujudkan khayalan itu menjadi kenyataan. Walaupun kenyataannya hanya berupa wujud tak jelas di selembar kanvas atau deretan kata-kata yang sulit dimaknai.

Galeri

Galeri

Saat paling kelam adalah saat lukisan selesai. Kembali ke dunia nyata, memikirkan lagi uang belanja besok, uang rokok, bensin motor bututku, spp anak-anak, pulsa yang menipis dan seabreg-abreg tuntutan lain.

25082007645

Setelah itu lukisan dipajang. Ibarat memancing, umpan sudah dilontarkan. Tinggal menunggu tanggapan. Dipajang sekian lama, buah cipta, rasa dan karsa itu tak lekang dimakan kebosanan. Khayalan itu hidup dan berpindah dari kepala-ke kepala, melontarkan daya ganggu seusil-usilnya.

My Sist, Bro & Bunda Tercinta nengok studio galeriku

My Sist, Bro & Bunda Tercinta nengok studio galeriku

Dipajang dan diatur, menunggu lirikan genit penikmatnya. Adakah yang sampai di hati. Transaksi memang ditunggu, namun pelukis bukan hanya mengikuti perut, imajinasinya lebih hidup saat terlontar apresiasi. Pijar semangat berkarya kembali menyala.

Pajang

Pajang

Baik atau buruk komentar Anda, akan sangat saya hargai.

Menunggu

Menunggu

Salam!

INSOMNIA

nyalang menatap malam
binatang garang merunduk kelam
meradang ditekuk alam

geram dibuai bintang
diam mengatup rahang
bergumam aku si jalang

mana yang lain?
sendiri dalam ragu
mencari-cari ketundukan

(INSOMNIA, 2009, palette, oil on canvas, 80X100cm)

INSOMNIA

INSOMNIA