Abstract Painting, “3 VS 1”

CC ABS 1

My composition today, “3 vs 1”, oil on canvas, 70cm X 90cm, September 2014.

Advertisements

Earth, Sky, Wind & the Sea

ESW cc1

“Earth, Sky, Wind & the Sea”, oil on canvas, 70cm X 90cm, September 2014.

esw 4 cc

Listen to the Earth

Listen to the Earth, oil on canvas, 70 cm X 125 cm, MosF, September 2014.

CC MSB 1

MSB 7

Desain Benang Bintik Motif Bitik, Dawen Taya dan Dehes

Desain kali ini terinspirasi oleh bitik (semut), dawen Taya (daun Taya, kerap dibuat sayur pahit, lezat!), dan dehes (arus air sungai). Komposisi warna agak cerah dan keras, sesuai intepretasi kesan rasa tema motif.

Inilah hasil olah rasa estetik (yang semoga benar-benar diterima indah) atas karakter bitik yang kecil lincah dan terus bergerak, dawen Taya yang pahit, keras namun lezat serta dehes yang mengalir keras dan lembut; ke dalam komposisi garis dan warna. Semoga menjadi inspirasi.

This slideshow requires JavaScript.

Tepian Rimba, Oktober ’12

Lukisan Moses,

Flowery Flowers

Bunga-bunga, ya kali ini saya sedang keasyikan mengeksplorasi aneka bunga, terutama Mawar, ada juga Melati dan Anggrek.

Mulai dari sapuan kuas halus,tekanan pisau palet bertekstur tebal hingga olesan dengan tangan. Inilah beberapa hasilnya.

This slideshow requires JavaScript.

“Blue Rose”, Thick textured paletted oil coloron Canvas, 70cm X 90 cm, Moses Yes, June 2012.

“Rose Minimalis”, Oil on Canvas, 70cm X 90 cm, Moses Yes, June 2012.

“Melati Putih”, Thick textured paletted oil coloron Canvas, 70cm X 90 cm, Moses Yes, June 2012. (Sold).

“Rose of Fire”, Thick textured paletted oil color on Canvas, 70cm X 90 cm, Moses Yes, June 2012. (Sold).

“Rose Fantasy”, Oil on Canvas, 70cm X 90 cm, Moses Yes, June 2012.

“Mawar Merah Biru”, Oil on Canvas, 50cm X 60 cm, Moses Yes, June 2012. (Sold).

“Sekuntum Mawar”, Oil on Canvas, 60cm X 80 cm, Moses Yes, June 2012. (Sold).

“Anggrek”, Thick textured paletted oil color on Canvas, 70cm X 90 cm, Moses Yes, June 2012. (Sold).

Lukisan Kesaksian & Pengakuan

DOA SYUKUR

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan merasakan kekurangan, sebab itulah aku mengerti makna bersyukur dalam kecukupan

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan berkelebihan, sebab itulah aku mengerti bahwa tak berbagi dalam kelebihan adalah kesalahan

Ampuni aku Tuhan karena menjauh dari Engkau dan terimakasih karena cobaan yang Kau ijinkan kuterima menyadarkanku…

Kini kumengerti betapa berharganya penyadaran dan betapa tak ternilainya sebuah kesadaran akan ketuhananMU!

Meski penyadaran itu berawal pahit dan kesesatan itu berawal manis, dengan kesadaran; pahit atau manis seharusnya senantiasa membuatku sadar, dan sadar membuatku senantiasa bersyukur.

 

“Muda menutup mata, tua merana”, Karya: Moses Foresto, 2010, Oil on Canvas, 110cmX140cm.

Teringat akan puisi tahun 2008, dalam bebal tak berbatas, kemunafikan merajalela… sang pendusta kembali terhilang…

DOA ANAK HILANG

Dengan cara yang lembut dan tepat, Tuhan bertindak keras kepadaku.

Ia tahu persis apa yang kuperlukan.

Seperti dinding yang kokoh pagarnya tegas pada saat aku lemah dan lelah, bukan untuk menghimpit namun menjadi penopang yang mengendalikan jalan hidupku agar tak roboh dan tersesat.

Tersesatlah aku karena tidak menghasilkan buah-buah Roh melainkan buah-buah kedagingan yang menjerat leher dan menyesatkan.

Telah kupilih sendiri,  hasilkan buah-buah dalam Roh dan kebenaran bukannya hasilkan buah-buah dosa namun tidakanku berlawanan dengan pilihanku, sebab aku lemah dan bodoh

Saat ini buah-buah dosa menjadi bebanku. Buah-buah itu mengejar dan tak rela melepaskanku.

Tamengku, Perisai yang baik telah kuretakkan dengan dosa-dosa tak terhingga, bahkan kubuang dan kutinggalkan

Sekarang saatnya aku menentukan tindakan

Menjadi seperti Kain yang mengobarkan amarah pada Tuhan dengan menyalahkan Habil serta orang benar lainnya

Menjadi seperti Saul yang mengandalkan kekuatan sendiri, mencari Tuhan dengan tidak layak dan tak berkenan

Menjadi seperti Simson yang menjadi tak taat setelah menerima berkat dan bertindak tanpa hikmat

Tidak Tuhan, jauhkan aku dari pilihan-pilihan itu, aku mau seperti Daniel yang menguduskan diri demi Allah yang hidup

Aku mau seperti Daud yang dengan hikmat menyesali perbuatannya, hidup benar, layak dan berkenan di hadapan Engkau Tuhan

Jika terlalu jauh dan berat untuk menjadi seperti Paulus, aku mau seperti Stefanus yang hidup dan mati dalam kebenaran

Tuhan, setiap kali berbuat dosa aku membukakan celah bisa dan racun mencelakakan jiwaku..

Tak terhitung kini dosa-dosaku

Tak terhitung pula racun di dalam jiwaku

Kini ya Bapaku, kuduskanlah kiranya aku dari segala macam racun itu

Dengan berperisaikan Engkau, hindarkanlah aku dari serangan Iblis.

Aku milikMu ya Tuhan

Engkau yang telah menebusku dari kesia-siaan dan membawaku kepada kemuliaan anak Raja, namun semua pernah kutinggalkan untuk hidup dalam penyiksaan dan mengarahkan hidupku pada api neraka dalam kekekalan

Ampuni aku… maafkan aku, Tuhan Yesus

Terimalah aku kembali, anak hilang yang tak tahu diri

Kini aku sadar dan mencari Engkau, ijinkan lagi aku menemukan Enkau dan menautkan diriku denganMu ya Allah.

Terimakasih Tuhan Yesus Kristus, Amin.

Ungaran, 7 Oktober 2008

IJINKAN AKU KEMBALI, BAPA…

BERI HAMBA KEKUATAN…

MESKI BERKALI-KALI TERHILANG,

TERIMALAH HAMBA KEMBALI…

Ungaran, 24 Januari 2011

MENULIS NOVEL

MENULIS NOVEL

Sejak Pebruari 2009 hingga akhir Oktober 2009, saya terdampar di pulau khayalan. Itulah delapan bulan yang penuh dengan begadang “sambung puting”, hanya dipenuhi aktivitas menulis dan melukis. Berawal dari sebuah tulisan singkat, tumbuh menjadi plot, lalu bersusunrangkai sambung menyambung hingga menjadi naskah (raw material) 6 buah novel dengan sinopsis dan judul sebagai berikut:

1.   Sang Pangeran (209 halaman kertas folio, kalau sudah jadi cetakan format novel, saya belum tahu kira-kira jumlah halamannya)

SINOPSIS:

Kisah fiksi tentang Ari Prasetyo, Putera Mahkota penguasa di Indonesia alias Sang Pangeran. Ketika harus menerima kenyataan dihukum kurungan penjara, Sang Pangeran tidak mau menerimanya. Namun Dengan kecerdikannya, ia mencari pengganti yang benar-benar mirip. Ia berhasil menemukan seorang pemuda kampung bernama Abe di pelosok paling utara Indonesia, dari desa Sambuara, Kepulauan Talaud.

Terjadilah, si penggantinya yang menjalani hukuman penjara untuk Sang Pangeran. Ternyata sang pengganti seorang pemuda cerdas yang cepat belajar, bukan hanya menjadi pengganti sementara. Dengan bantuan Otis dan Boy, dua orang tangan kanan kepercayaan Sang Pangeran sendiri, Abe menggantikan peran Sang Pangeran sampai sekeluarnya ia dari penjara dan terus melakoninya.

Berikutnya dikisahkan mengenai intrik perebutan kekuasaan, kenyataan-kenyataan mengejutkan tentang identitas asli Sang Pangeran dimana ternyata orang yang mula-mula disebut sebagai Sang Pangeran ternyata bukanlah pangeran sesungguhnya, melainkan seorang yang tidak disangka-sangka. Namun demikian, karena publik tidak mengetahui mengetahui Sang Pangeran tersebut adalah palsu, terpaksa Abe tetap berperan sebagai Sang Pangeran secara permanen.

Diceritakan pula kisah tentang bagaimana pergumulan si pemuda kampung karena harus kehilangan identitas sebagai pemuda kampung bersahaja dan berperan menjadi Sang Pangeran yang hidup dalam kemewahan di lingkaran pusat kekuasaan.

2.   Wasiat Sang Ayah (291 halaman kertas folio)

SINOPSIS:

Kisah ini adalah kelanjutan dari novel “Sang Pangeran”. Dikisahkan bagaimana Sang Pangeran yang asli, selanjutnya menerima wasiat dari ayahnya untuk merebut kembali kekuasaan yang telah terlepas dari tangan ayahnya.

Dimulai dengan upaya Sang Pangeran untuk berburu harta karun kekayaan sejati, dan dilanjutkan dengan usahanya membangun jejaring kekuasaan mulai dari organisasi massa, partai, kabinet hingga menguasai parlemen. Sementara itu, Sang Pangeran sendiri tidak pernah tampil atau diketahui publik karena atas saran dalam Wasiat Sang Ayah, kekuasaannya akan lebih besar dan berlangsung lama apabila ia bekerja di balik layar, mengendalikan kekuasaan.

Untuk membantunya, peran Abe sebagai Sang Pangeran, kembali menjadi bagian penting dalam upaya Sang Pangeran asli merebut kekuasaan.

Juga dikisahkan bagaimana perjuangan Sang Pangeran untuk menjalankan lakon sebagai dalang politisi dan penguasa.

Bagian berikutnya adalah intrik antara Sang Pangeran dengan saudara-saudaranya yang juga menginginkan kekuasaan serta gerakan badan intelijen Australia, ASIO dan ASIS.


3.   Rahasia Buku Harian Kedelapan (137 halaman kertas folio)

SINOPSIS:

Ando adalah seorang detektif swasta yang bekerja sama dengan Chen, seorang ahli komputer dan elektronika dan Don seorang pengacara. Sebagai sebuah tim mereka bekerjasama dengan kompak. Dalam kisah ini Ando dan kawan-kawannya berusaha mengungkap kasus tentang seorang model, peragawati dan desainer sukses bernama Delicia.

Tak banyak yang tahu bahwa Delicia dibesarkan di panti asuhan, hidup di jalanan hingga masuk penjara. Ketika ia dipenjara, Avi yang kemudian membuat hidupnya berubah, adalah sahabat, guru dan orang tua bagi Delicia. Kematian Avi membuatnya terpukul dan mendendam.

Selain mewariskan harta, peninggalan Avi yang lain adalah buku harian yang membeberkan rahasia hidup Avi. Pada Buku harian yang pertama sampai ketujuh, diuraikan cita-cita Avi yang belum terwujud. Delicia melaksanakan cita-cita Avi hingga terlaksana dengan baik, termasuk mencari saudara-saudara Avi yang lama menghilang. Dalam pelaksanaannya Delicia dibantu Ando.

Tanpa diketahui seorang pun, Delicia menyembunyikan Buku Harian Avi yang kedelapan. Pada buku itu tertulis rahasia Avi yang lain. Kemarahan, kebencian dan dendamnya pada seorang musuh besar. Walau dikenal sebagai desainer dan pengusaha fashion ternama, ternyata sisi lain hidup Avi terobsesi pada balas dendam, namun ia gagal dan terbunuh oleh musuh besarnya. Musuh besarnya itu bernama Tuan Jati Rotten, seorang pejabat penting sekaligus tokoh besar mafia peradilan yang telah menghancurkan keluarga Avi.

Obsesi itu kemudian teralih pada Delicia yang menyusun caranya sendiri untuk menyelesaikan dendam Avi pada musuh besarnya. Delicia kemudian bekerja sebagai detektif, bergabung dengan Ando dan melaksanakan pembalasan dendam.


4.   Sindikat Bandit Selat Malaka (208 halaman)

SINOPSIS:

Ando adalah seorang detektif swasta yang bekerja sama dengan Chen, seorang ahli komputer dan elektronika, serta Don seorang pengacara. Ketiganya bersahabat sejak kecil. Sebagai sebuah tim mereka bekerjasama dengan kompak memecahkan berbagai kasus kejahatan.

Mereka berpetualang ke Kuala Tungkal, Batam dan Banjarmasin untuk mengungkap misteri hilangnya Cai Li, seorang terpidana kasus bajak laut di Selat Malaka yang dikabarkan mati setelah melarikan diri dari penjara. May Ling, istri Cai Li,  tidak percaya bahwa suaminya mati, apalagi sebagai seorang bajak laut. Ia meminta bantuan Ando dan kawan-kawan untuk mencari kebenarannya.

Tanpa disangka, pencarian Cai Li membuat Ando dan kawan-kawannya berhadapan dengan sindikat bandit yang mengendalikan kejahatan para bajak laut dan penyelundup di Selat Malaka.

Perkara itu menjadi lebih rumit ketika sepuluh buah keramik kuno yang sangat berharga, salah satu benda hasil perompakan sebuah kapal di Selat Malaka disembunyikan oleh Cai Li. Keramik kuno itu ternyata diinginkan oleh seorang wanita kaya dari Paris, Perancis yang kemudian mengutus Piere, seorang detektif sekaligus pembunuh bayaran untuk memburunya.

Ando dan kawan-kawannya bekerja keras dan mengerahkan seluruh kecerdikannya, untuk menemukan Cai Li dan menggulung Sindikat Bandit Selat Malaka.

5.   Uder (283 halaman)

SINOPSIS:

Uder, seorang anak haram yang tidak kenal orang tuanya, dibesarkan di panti asuhan yang dikelola oleh orang jahat. Ia lari dari panti asuhan dan tinggal di perkampungan kumuh bernama Texas.

Di tempat itu ia bertemu dengan Jenggo, mantan pencuri yang kemudian menjadi guru Uder. Beberapa tahun kemudian, seorang anak perempuan bernama Tina dan bocah autis bernama Ong Wie, ikut bersama Uder tinggal di Texas. Mereka belajar mencuri sampai kemudian sukses menjadi kelompok pencuri profesional.

Suatu ketika mereka berurusan dengan FM-brotherhood, organisasi internasional yang sangat kuat dan berpengaruh di dunia. FM-brotherhood menyewa jasa mereka memburu pusaka “Tree of Life” dari tanah Dayak, Kalimantan Tengah. Uder pun berpetualang di Kalimantan dan bertemu beberapa tokoh yang mengajarkannya konsep “Tree of Life” asli versi tanah Dayak yaitu “Batang Garing Belum”.

Ternyata di dalam organisasi FM-brotherhood sendiri terjadi intrik perebutan kekuasaan, sehingga membawa Uder dan kawan-kawannya hingga ke sebuah pengadilan ala FM-brotherhood di Sydney.

Di Sydney Uder terlibat dalam permasalahan FM-brotherhood dan harus berjuang untuk menyelamatkan diri dan kawan-kawannya.

6.   Skizo-romantik (187 halaman)

SINOPSIS:

Buku ini berkisah tentang perjalanan Wargus, orang gila yang berusaha mencari kesembuhan, dan akhirnya hidup waras setelah menemukan cintanya.

Ia sempat menjalani masa kecil indah di rumah ayahnya di perkebunan dan memiliki sahabat baik bernama Nyong dan Ijah, pengasuhnya. Wargus dan Nyong sangat gemar bermain dan berenang di sebuah sungai di perkebunan. Masa indah itu tidak lama karena Nyong kemudian disekolahkan orang tuanya di Bandung. Hal itu membuat Wargus frustrasi dan melakukan beberapa kali amuk hebat. Karena itu ayahnya memasukkannya ke RSJ.

Setelah sempat kecewa. Wargus menemukan kegembiraan lewat kegiatan berenang. Seorang pelatih melihat bakatnya, lalu membawa Wargus pada pelatih yang baik. Prestasinya di kolam renang sangat baik, dan saat itu keadaan jiwanya membaik. Wargus berhasil menjadi juara dan mencetak rekor pada sebuah pertandingan. Tapi kemudian terjadi keributan. Setelah berhasil menjadi juara dan mencetak rekor, Wargus menghilang.

Ia melarikan diri lagi dan hidup sebagai gelandangan di pasar. Dari pasar ia berpetualang hingga ke Semarang, bertemu orang-orang gila lainnya, hingga kemudian ia ditampung oleh seorang gila yang sukses menjadi seorang paranormal terkenal.

Akhirnya ia terbelit dalam kisah cinta yang rumit dengan istri sang paranormal yang ternyata menyimpan rahasia besar dalam hidupnya.

Banyak sekali kelemahan naskah-naskah tersebut. Setelah menerima masukan dan saran dari berbagai pihak, naskah-naskah itu terus saya matangkan, dan semoga tidak keburu gosong… atau “mlenyek kematengan”.

Penajaman detil di sana-sini, penegasan dan konsistensi karakter, kontras konflik, deskripsi panca indra menangkap situasi, narasi yang membosankan, hanya sebagian dari seabreg-abreg PR yang masih harus diperbaiki.

Kali ini, saya ingin share dan posting beberapa puisi yang termaktub dalam naskah, khususnya yang setema dengan blog ini. Semoga tidak terlalu buruk….

Kutipan Puisi dari Naskah Buku “Wasiat Sang Ayah” (Moses Foresto, 2009, 291 hal.)

1. Wasiat Sang Ayah

Nak, aku tahu pada saatnya surat ini akan sampai ke tanganmu. Saat engkau membaca surat ini, berarti engkau sudah berhasil mengemban tugas pertama dan layak menerima Wasiat ini. Sengaja kutitipkan surat ini pada kakak-kakakmu untuk diserahkan padamu pada saat engkau mencarinya atas kemauanmu sendiri, bukan atas niatan dari kakak-kakakmu.

Engkau sengaja tidak kutempatkan sebagai anak kandungku karena kedudukan sebagai anakku terlalu berat. Pada kedudukan seperti itu engkau akan semakin lemah, tak mampu membangun kekuatanmu. Sehingga engkau putraku yang sesungguhnya, kutempatkan sebagai pendamping anak yang berkedudukan selaku putraku. Sang Pangeran. Engkaulah Pangeran yang sesungguhnya. Engkaulah yang memiliki kekuatan untuk melindungi keluarga besar keturunanku dan untuk merebut kekuasaan yang pernah kulepaskan.

Seluruh rencana yang ayah susun dalam wasiat ini didasari sebuah prinsip yang pada saatnya kelak pun harus kau pegang kebenarannya.

Ayah berkeyakinan bahwa kekuasaan tidak dapat diberikan. Kekuasaan harus direbut. Untuk berkuasa, seseorang harus kuat. Kekuatan, seperti halnya kekuasaan, juga bukanlah sesuatu yang dapat ayah berikan kepadamu. Kekuatan harus dibangun dan dibentuk selama beberapa waktu. Waktu itu diperlukan untuk menguji kekuatan dengan ujian yang sesuai dengan jamannya. Kekuatan ayah bukan lagi kekuatan yang mampu menghadapi ujian jamanmu. Kekuatan ayah tak mampu menghadapi kekuatan jaman ini. Kekuatan pada suatu jaman berbeda dengan kekuatan pada jaman sebelum atau sesudahnya. Ujian dan tempaan pada suatu jaman berbeda dengan jaman lainnya.

Pada tataran pertama, yang terrendah, ujian itu adalah harta, takhta dan wanita. Ketika engkau dapat mengatasi itu, maka lawan yang akan kau hadapi adalah orang-orang kuat yang juga mampu mengatasi ujian itu.

Tataran yang kedua, ujiannya terletak pada kemampuanmu membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi orang banyak. Banyak lawanmu pada tataran pertama, mampu mengatasi dirinya tapi tak mampu membawa manfaat bagi orang banyak. Jika engkau sudah mampu mengendalikan diri, maka kekuasaan yang ada padamu dalam tataran ini dapat berlangsung lama hingga kau tak mampu lagi mengendalikannya. Ayah hanya mampu mencapai tataran ini.

Pada tataran yang ketiga dan terakhir, adalah bagaimana engkau bisa menjadi semakin sederhana dan rendah hati sementara engkau sendiri memiliki kekuatan dan kekuasaanmu yang sudah berada jauh di atas kebanyakan orang. Untuk dapat mengatasi lawan yang sudah mencapai tataran seperti itu engkau harus lebih sederhana dan merendah karena mereka bukan orang-orang yang memiliki keinginan untuk menundukkan orang lain. Kekuasaan ada pada mereka semata-mata karena kecintaan dan kepercayaan orang atasnya.

Setelah melewati ketiga tataran itu, engkau sudah mencapai apa yang ayah wasiatkan. Pada lembaran berikut nanti akan kau temukan patokan-patokan dan arah yang akan kau temui. Kesemuanya akan kau temui walau tidak mesti pada urutan yang sama sebagaimana ayah susun. Jika engkau melaksanakannya, kekuatanmu akan teruji dan tertempa sesuai jamanmu. Tinggal takdir yang akan menentukan hasil akhir usahamu.

Sebelum engkau membuka lembaran berikutnya, bersabarlah. Maknai sebaik-baiknya wejangan pada lembaran pertama ini. Mulailah dengan menengok ke belakang untuk melihat apa yang telah engkau lalui, apa kekuatan dan kelemahanmu. Kemudian tengoklah ke bawah, pada kedua kakimu. Ketahuilah di mana engkau berdiri. siapa di sekelilingmu. Kenali siapa mereka. Dan yang ketiga tengoklah ke depan apa yang akan kau lalui. Pada saat itu, engkau takkan bisa mengetahuinya, kecuali engkau terlebih dahulu menengok ke atas, ke langit, dan menyadari betapa kecilnya engkau sebagai bagian dari semesta. Kesemestaan akan mengajarkan banyak padamu.

2.  Cara Kudeta (Wasiat Sang Ayah untuk Sang Pangeran)

halus                            laksana hembusan angin

kuat                             sekuat tiupan taufan

bergerak                      bagaikan air, setetes demi setetes

merembes hingga pusat kekuasaan

basahi                          semua tanpa sisa.

tenggelamkan             semua tanpa sisa.

kuasai                          semuanya tanpa sisa

jika dan hanya jika ada waskita dan harta sejati

diingat                         dan dicamkan sejak langkah pertama

angin                           menjadi taufan tanpa diduga

air menjadi                  banjir tanpa diduga

jika dan hanya jika, semua tak terasa

kemiskinan                  adalah sekutu bangkitnya kekuatan terbesar

si miskin                      adalah kaum yang terhisap di pusat pusaran

pemiskinan                  adalah sekuat pusaran perusak segalanya

temani kemiskinan, perangi pemiskinan adalah awal dan tujuan perjuangan

3.   Metamorfosis

Hidup adalah pergerakan

Hidup adalah perubahan

Gerakan dalam kefanaan

Berubah dalam pemaknaan

Bergerak tinggalkan segala yang semu

Berubah mencari makna baru

Duka nestapa adalah bumbu

Searah setujuan: Ciptaan Baru

Manusia baru tak lagi secitra yang lama

Hidup bukan sekedar menanti matinya raga

Hidup baru adalah hidup bermakna

Pabila hati hamba dituangi Sukma Pencipta

4.  Syair Pertama

dua belas purnama melanglang buana
mengenali musim, berguru pada masa
Buka mata pasang telinga
buka hati simpan jatidiri
Mengalir laksana air berjiwa
Percikan hujan dari langit semesta
menyusup wadah terrendah
mengangkat rupa petuah
menelisik sudut tersembunyi
mendapat hikmat tertinggi
bekal abadi ke singasana
Hakekat

Adalah

sejati segala

pelayan

penguasa

pengabdi

5.  Pemimpin Cermat

Gejolak hati memilah                   sampah

Geliat jiwa                                    mengurai emas

Hati menekan  perut                    tersembur muntah

Perut menuntun langkah,            kaki menapak  alas

Bumi makin tua,              jaman terus berubah

Satu dua                           perkara tak boleh dilepas

Pemimpin arif                              membawa berkah

Mengenali sampah dan   membedakan emas

Kawan sejati                                lawan             yang bijaksana

Kawan teruji                                hanya kawan lama

Lama bersama                             tumbuh sewadah

6.  Petunjuk Letak Harta Karun Sejati

Narimo

ing pandum untuk

kasekten pribadi raja

Menjadi tanah yang Gasik,

Eloh, Lempar, Ayem, Reja, Jujugan

Bekal diri menguasai segara  Harta segunung

Untuk  kasekten lumbung raja  Harta kasekten jaman edan

Bekal diri  menguasai  durjana  Tersimpan di tanah

sembilan candi Diapit sepasang naga Dijaga bahurekso

dan pusaka tua  Bertanya pada Siti Bathara

Ditunjukkan Siti Manikmaya Disimpan

Siti Bethari  Dikunci Siti Sri Sadono

Dapatkan semuanya dari Siti Langgu Puwala

Triwindu wibawa bawalaksana ditunggu para kawula


7.   “Historia vitae magistra”

Nak, “Historia vitae magistra”. Sejarah adalah guru kehidupan, itulah yang ingin kusampaikan kepadamu. Setiap orang memiliki dunia kecilnya dan dunia kecil itu membentuk dunia bersama. Kehidupanmu adalah duniamu, gurumu adalah sejarah dunia, dirimu sendiri dan duniamu, guru bangsa adalah sejarah bangsa.

Ketika membawa serta harta yang ayah wasiatkan ini, kau sudah banyak belajar. Kejayaan bangsa sudah banyak kau pelajari, namun sejarah bangsa yang tidak banyak diajarkan adalah sejarah panjang tentang kemiskinan dan pemiskinan bangsa.

Abad demi abad berlalu, semua berubah, satu yang tetap. Kaum petani menopang kehidupan kraton, kaum miskin menopang yang kaya. Bangsa hanya akan berjaya apabila penopangnya kuat. (Catatan; kutipan ini menjadi ide awal saya membuat lukisan “Menopang Tuan Besar”, salah satu posting di blog ini).

Menopang Tuan Besar

Catatlah satu dua hal penting sebelum engkau mulai berjuang.

Pertama, hindarilah jalan kekerasan. Karena kekerasan adalah tindak pemiskinan yang utama. Memiskinkan jiwa dan raga, baik pada cipta, rasa dan karsa manusia.

Kedua, utamakan menebar benih lebih daripada memetik buah. Karena perjuanganmu akan terlalu panjang melebihi usia jika kita hanya menginginkan buah. Pilih benih terbaik, biarkan ia tumbuh sesuai jamannya. Yang terbaik dan sesuai jamannya akan bertahan, menghasilkan benih terbaik untuk jaman berikutnya.

Ketiga, tantanganmu nanti adalah tantangan milenium ketiga. Kau akan menghadapi drama hegemoni nusantara. Banyak bangsa asing berusaha menanamkan kuasa, namun ancaman yang utama bukanlah pada serangan, lebih dari serangan, pentingkanlah daya tahan. Baik serangan maupun daya tahan, hanya teratasi oleh gotong-royong, padha-padha dan tepo seliro; landasan dari solidaritas untuk nasionalisme.

Ada beberapa orang yang harus kau temui. Orang yang harus kau temui adalah anggota Punakawan……

Kutipan Puisi dari Naskah Buku “Rahasia Buku Harian Kedelapan” (Moses Foresto, 2009, 137 hal.)

Lakon “Dunia Peradilan”

Naskah ini berawal dari ide dalam Lukisan saya yang berjudul “The Law of Mafis’s Law (tahun 2008, ternyata sekarang lagi rame ya?, ini lukisannya. Pusinya ada di posting saya terdahulu, ada di dalam blog ini).

Setan Timbangan/ The Law of Mafia's Law

Setan Timbangan/ The Law of Mafia's Law

Lakon “Dunia Peradilan” yang dimainkan babi-babi rakus dan gurita bertangan banyak. Masing-masing memainkan tarian topeng kemunafikan dengan irama dusta yang menyayat hati.

Tikus-tikus berjubah hitam memperindah tarian kolosal mereka dengan tangan dan gigi masih belepotan darah segar.

“Salah atau tidak, tak ada bedanya. Yang telah masuk ranah kekuasaan kita harus membayar dengan darah” kata seekor babi dengan pangkat dan atribut mengkilat.

“Setujuuuu” jawab para tikus dengan mata merah.

“Pilar keadilan harus kita runtuhkan!” teriak para gurita sambil mencekik para korban di masing-masing tangannya.

“Setujuuuuu” jerit para tikus histeris.

Demikianlah mereka yang berpesta di ruangan dalam, sementara di luar, rekan mereka yang bersikukuh bahwa keadilan harus ditegakkan, berjuang berkeringat darah dan lecet tergencet-gencet menahan pilar-pilar teras depan yang terus bergoyang.

Di sekitar meja dan palu, hamba setia lainnya sibuk mengusir tikus-tikus, satu dua mulai lelah menyangga teman yang tergelincir. Tak sedikit pula yang mengorbankan nyawa untuk menjaga simbol kesatuan dengan penuh kebanggaan, sedangkan yang lainnya sibuk melemparinya dengan tahi.

Para penonton sibuk dengan hatinya masing-masing. Sebagian bersorak, lainnya menangis. Tak ada yang berani campur tangan sebab pertunjukan itu dimainkan oleh orang-orang yang berkuasa memasukkan setiap kepala yang mereka inginkan untuk dijejalkan ke dalam lubang kloset penuh dahak, tahi dan air seni.

Kutipan Puisi dari Naskah Buku “UDER” (Moses Foresto, 2009, 283 hal.)

Catatan:  Tulisan berikut ini bagian naskah, menggambarkan penokohan cerita “Uder”, sama sekali bukan sebuah kenyataan, ajaran, atau keyakinan saya. Ini tidak berkaitan dengan ajaran agama tertentu, atau niatan saya untuk mencampurbaurkan keyakinan.

Untuk catatan tambahan, Freemasonry sebagai organisasi dengan doktrin dan dogmanya sendiri, mengandung ajaran-ajaran yang ditolak dan ditentang berbagai agama besar dunia. Berikut ini hanyalah karangan semata, sebagai reka-reka simpulan dan kutipan saya atas sebagian doktrin Freemasonry tulisan Albert G. Mackey.

1.   Surat Jeff (Lakon tokoh pemimpin Freemasonry)

Ma’at-neb-men-aa, Ma’at-ba-aa’

(kata-kata Mesir Kuno berarti, Agunglah Imam Tertinggi)

“SANCTA SANCTIS, we repeat again;

the Holy things to the Holy, and to him who is so, the mysteries of the Kabalah will be holy.

Seek and ye shall find, say the Scriptures: knock and it shall be opened unto you.

If you desire to find and to gain admission to the Sanctuary, we have said enough to show you the way.

If you do not, it is useless for us to say more, as it has been useless to say so much.”

2.  The Great Work

The Great Work is, above all things, the creation of man by himself; that is to say, the full and entire conquest which he effects of his faculties and his future. It is, above all, the perfect emancipation of his will, which assures him the universal empire of Azoth, and the domain of magnetism, that is, complete power over the universal Magical agent.

This Magical agent, which the Ancient Hermetic philosophers disguised under the name of “_Prima Materia_,” determines the forms of the modifiable Substance; and the Alchemists said that by means of it they could attain the transmutation of metals and the universal medicine.

Human progress is our cause, liberty of thought our supreme wish,

freedom of conscience our mission, and the guarantee of equal rights

to all people everywhere our ultimate goal.

Remember, also, that there is an education which quickens the Intellect, and leaves the heart hollower or harder than before. There are ethical lessons in the laws of the heavenly bodies, in the properties of earthly elements, in geography, chemistry, geology, and all the material sciences. Things are symbols of Truths. Properties are symbols of Truths. Science, not teaching moral and spiritual truths, is dead and dry…

Christianity, it is said, begins from the burning of the false gods by the people themselves.

Education begins with the burning of our intellectual and moral idols: our prejudices, notions, conceits, our worthless or ignoble purposes. …

Kutipan Puisi dari Naskah Buku “SKIZOROMANTIK” (Moses Foresto, 2009, 283 hal.)

Catatan. Ide penulisan novel ini berawal dari kutipan pada cerpen cerpen”Qui Sait?” karya Guy de Maupassant (1890).

J’ai toujours été un solitaire, un rêveur, une sorte de philosophe isolé,
bienveillant, content de peu, sans aigreur contre les hommes et sans
rancune contre le ciel. J’ai vécu seul, sans cesse, par suite d’une sorte de
gêne qu’insinue en moi la présence des autres…

(Aku tetap seorang penyendiri, pengkhayal, semacam filsuf yang terasing, baik hati, sedikit periang, tidak bersikap keras dengan orang lain, dan tanpa rasa dendam terhadap Tuhan. Aku terus menerus hidup sendiri karena ada semacam rasa tidak nyaman yang menyusup dalam diriku akan kehadiran orang lain…)

J’aime tant être seul que je ne puis même supporter le voisinage d’autres
êtres dormant sous mon toit…

(Aku sangat senang menyendiri, bahkan sampai-sampai aku tidak bisa menerima hidup bersama dengan orang lain dalam satu atap. ..)

Kutipan dari cerpen”Qui Sait?” karya Guy de Maupassant (1890)

Ungaran, 7 Januari 2010

3 Lukisan & 1 Seri Antifoni Untuk Parlemen

3 LUKISAN & 1 SERI ANTIFONI UNTUK PARLEMEN

Jika seluruh bentukan semiotika yang keluar dari hiruk-pikuk parlemen kita disatukan sebagai sebuah karya sastra, maka tanpa diduga sama sekali hasilnya adalah antologi yang unik dan indah.

Bahasa tubuh, clues, mimik teatrikal, komentar orang-orang terbaik pilihan rakyat itu menghibur dan nyaman sekali dinikmati. Yang jelas, berdayaganggu dahsyat karena mampu mengharubirukan peta kosmos besar dan kosmos kecil dengan segala harmoni hasil kompilasi berbagai ironi, menjadi komposisi dramatis.

Sayang seribu sayang, seandainya segala cumbu rayu, pelukan, makian desahan cinta dan 1001 macam ekspresi berahi para senator itu diibaratkan sebagai percintaan dahsyat dan panjang; “there’s almost no peaks at all…” apa artinya artinya paradoks berkepanjangan seakan menggapai puncak semu namun tak kunjung mencapai klimaks….

Inilah antifoni untuk parlemen, dalam “3 Lukisan dan 1 Antifoni”.  Semua ini dilandasi kecintaan dan pengharapan besar, semoga tak ada yang sakit hati atau teriris.  Semoga bermakna…..

Einstein-Wannabee-Complex

Einstein-Wannabe-Complex

“Einstein-Wannabe-Complex” (Moses Foresto, 2010, Acrylic emulsion on Canvas, 70cm X 90 cm) Terjual, Tq Q & O!

Antifoni 1.

“Einstein-Wannabe-Complex”

buru ilmu; serbu buku;

umbar nafsu; kupas, kuliti

bakar kaum guru; biarkan mereka mati lapar…

pandai lalu menyesat; semai lalu bejat;

semut berebut gelar; tercerabut terurai serabut nalar…

oh, mana Iwan Fals, teriaklah teriakkan lagi

bela kaum guru,

topang kaum yang “duduk-duduk sambil diskusi”

(semoga Pendidikan kian terdepankan)


Parlementaria Hompimpa

Parlementaria Hompimpa

“Parlementaria Hompimpa” (Moses Foresto, 2010, Acrylic emulsion on Canvas, 70cm X 90 cm)

Ah, karena dibuat dengan sedikit amarah, lukisan ini selesai dalam 5 menit. Tapi kaki-tanganku belepotan acrylic berhari-hari sebab harus membuat lukisan ini sambil hompimpa, menjejakkan telapak tangan dan menginjakkan telapak kakiku di atas kanvas serta wajah-wajah itu.
Antifoni 2.

“Parlementaria Hompimpa”

tak harus berotak, yang penting kompak tak berontak

hompimpa alaiyum gambreng…

hompimpa dulu, pilih warna yang bicara

yang penting sandiwaranya heboh dan berkesan tak senada,

sumbang dan tak seirama

hompimpa lagi, keputusan diundi

yang penting kita-kita tidak rugi,

pundi-pundi tetap berisi, jaminan kenyang sampai mati,

persetan dengan hajat anak-anak negeri…

(semoga sidang-sidang itu tak pura-pura & hasilnya nyata, tak ditutup dengan kompromi pepesan basi)

Alas Kobong/ Kebakaran Hutan

Alas Kobong/ Kebakaran Hutan

“Alas Kobong” (“Kebakaran Hutan”) (Moses Foresto, 2010, Acrylic Emulsion on Canvas, 70cm X 90cm) Sold.

“Alas Kobong” (“Kebakaran Hutan”)

(Satu sajak ajak dan pengaduan pada Gus Dur-ku)

Bukankah di gedung itu seharusnya tak ada lagi warna

Bukankah seharusnya hanya ada hitam dan putih

Hitam untuk kesepakatan semua warna

Putih untuk tak ada warna

Tak perlu lagi ungkapan:

Biru membumi, langit merah membara

Kuning adalah emas saat mulia dan tahi ketika membusuk

Hijau adalah kehidupan, coklat tanahnya

Jingga bepadu lembayung pengindah senja syahdu

dan jambon penggenit rona langit

Lupakan, lupakan…

Jika tak mampu berpaduserasi, hanguslah hanguskan

Biarlah yang tersisa hitam arang dan jelaga

Dan putih asap dan abunya

Oh… tolong… tolong mereka

Kalau saja Gus Dur ada, aku mau mengadu

Aku rindukan dekritmu

Tapi, Gus, buat apa membubarkan Taman Kanak-kanak?

Kita berikan saja mereka Guru

Jangan yang kejam bengis anarkis

Tapi yang lembut, yang dengan kata-kata mampu bikin mereka menangis

Kalau tidak, Gus bikin saja mereka kesurupan

Kerasukan rohmu agar mereka peka sekaligus buta,

peka nurani, hanya melihat dengan hati

tak lagi melihat-lihat warna

tak kenal lagi siapa kau, aku dan dia,

kecuali apa yang terbaik bagi negara

Ayo, datang lagi Gus,

rasuki satu di antara mereka, maka gedung parlemen bergemuruh penuh tawa bahagia

rasuki dua, maka kaum papa tertawa dengan perut kenyang

rasuki tiga, maka Malaysia tak lagi jumawa

rasuki empat, maka kita tak takut lagi pada kiamat

he he he, sudahlah Gus, nikmati saja tetirahmu di surga sana

biar kami tangani ini, sebab aku tahu

jawabmu atas aduanku “Gitu aja kok repot…”

(Semoga, parlemen tidak seperti alas kobong dan Gus Dur bahagia di surga mulia)

Ungaran, 7 Januari 2010

TAK LAYAK

Tak Layak

Tak Layak

(Moses Foresto, 2003, palette, oil on canvas, 80cm x 100 cm).

Untuk tema lukisan tercipta sebuah lagu pada tahun 2008.

TAK LAYAK
Slow Ballad/ Swing

C                     G
Tak layak tak layak
F                     C
Sungguh tak layak
F         C           F                      G
Aku menerima s’gala kebaikanMu

C              G
Namun Kau tak Jua
F                  C
Membiarkanku
F               C        F         G              C
Melewati prahara tanpa kasih sayangMu

Reff.

Em               F                      G     C
Dia men’rimaku bagai anak yang hilang
C            F                G           C
Memelukku dan b’ri kehangatan
Em               F                     G    C
Kumenyembah s’bagai anak yang pulang
C            F               G                  C
Memuji Dia s’karang dan s’lamanya

Narasi 1.
Yesus Tuhan dan Allahku
Juruslamatku, kudatang padaMu
S’perti anak yang hilang, kini pulang dalam nista
Sirna s’gala jumawa, datang membawa takut dan sesal

C                      G
Berpaling kembali
F                    C
Kini aku berbalik
F                         C            F           G
Dari dosa dan sesat datang pada Yesus

C                      G
Menyembah memuji
F              C
Menekuk lutut
F             C             F       G      C
Bersyukur menerima limpahan berkatMu

Reff.

Em               F                 G    C
Dia men’rimaku bagai anak yang hilang
C             F    G             C
Memelukku dan b’ri kehangatan
Em                F            G      C
Kumenyembah s’bagai anak yang pulang
C           F         G             C
Memuji Dia s’karang dan s’lamanya

Narasi 2.
Marilah mari, biarkan sesat dan sesak berlalu
M’nuju kemuliaan dan kelegaan yang baru
Bersama di rumah Bapa yang berkelimpahan
Diberkati s’bagai anak Raja

G  C     F  G C
Aaaaamin….. aaamiiiinnn…..

Akhirnya lukisan “Panenan Mekekeh” selesai….

Inilah lukisan cat minyak berjudul “Panenan Mekekeh”, dikerjakan bersama di atas kanvar berukuran 1,5 m X 3m dengan teknik palette pada tahun 2007 dengan bimbingan guru melukis saya yang terhormat Alm. Pak Ndut Margono.  Kami mengerjakannya sebagai proses belajar langsung praktek, beliau memberi contoh di satu bidang dan saya mengerjakan di sisi lainnya, itu sebabnya kami sengaja membuat kanvas yang agak melebar.  Foto pertama memperlihatkan saat proses pengerjaan, dan foto kedua adalah lukisan setelah dibingkai dan dipajang.

Panenan Mekekeh

Melukis Panen

Teriring doa untuk pak Ndut Margono, damailah di surga.