Pengerjaan Hutan Taman Permakultur

Saat ini GLM sedang mengerjakan pembuatan Hutan Taman Permakultur seluas beberapa hektar di Jawa Tengah. Jumlah tanaman yang akan dikelola berkisar 70.000 tanaman, terdiri dari ribuan pohon dan herba.

Inilah sebagian dokumentasi proses pembuatan Hutan Taman Permakultur yang sedang dikerjakan oleh para kru GLM.

img_0401img_0431

Hingga hari ke sepuluh, beberapa bagian lahan telah dibersihkan dan ditanami tanaman utama berupa pepohonan berdiameter 30 s/d 45 cm.

img-20170202-wa0010img-20170204-wa0014

img-20170204-wa0006

Pengerjaan berikutnya adalah penerapan hugelkultur di bagian lahan lainnya, penanaman bunga hias dan penutup permukaan tanah.

Lukisan “Penari”

Terinspirasi oleh dinamika gerak ritmik para penari, saya melukiskannya dalam abstraksi lukisan berjudul “Penari”.

WP_20161116_16_00_01_Pro cc.jpg

Lukisan Penari dibuat dengan cat minyak di kanvas berukuran 90cm X 130cm.

wp_20161116_17_11_58_pro-cc

Saat ini lukisan “Penari” terpajang di Galeri Lukisan Moses, Jl. A. Yani No. 27 Ungaran, Kab. Semarang, Jawa Tengah.

Lukisan “Merry go Happy”

Lukisan “Merry go Happy” dibuat di atas kanvas berukuran 140cm X 210cm dengan cat minyak. Karya ini merupakan ekspresi abstrak rasa bahagia, diungkapkan dengan warna cerah namun lembut.

Proses pembuatannya dapat dilihat pada link video youtube berikut ini, Proses Melukis “Merry go Happy”. Silakan klik. Terimakasih.

Semoga membuat Anda bahagia.

000-20161101_193325

Patung “Nenek Ceria”

Belakangan saya kesulitan mendapatkan bahan matung dari balok jati yang kian hari kian mahal saja. Alternatif solusi pun dicari dan pilihan jatuh pada laminasi kayu lapis.

Kayu lapis disusun oleh Billy menjadi beberapa susun, diberi perekat dan proyek baru dimulai.

20160707_143706.mp4_000001133

Billy membantu pengeleman

Sambil bereksperimen dengan menggunakan potongan sisa, jadilah karya patung “Nenek Ceria” berikut ini.

Jika ingin melihat video prosesnya silakan klik di sini.

NC Eds kol cc

Slide foto pembuatannya sebagai berikut.

This slideshow requires JavaScript.

Jual 12 Karya

Berikut ini 12 karya saya terbaru, masih tersedia untuk dijual. Informasi lanjut hubungi email lukisanmoses@gmail.com.

Catatan:

Lukisan “Pram”SOLD..

Lukisan “Beau” SOLD.

mendengar suara bumi 90X130cm Rp.9jt

mendengar suara bumi 90X130cm Rp.9jt

V complex 70x90cm Rp.6 jt

V complex 70x90cm Rp.6 jt

singa 100x140cm Rp.12 jt

kepala singa 100x140cm Rp.12 jt

pramoedya ananta toer 80x100cm Rp.8jt

SOLD. pramoedya ananta toer 80x100cm Rp.8jt. SOLD.

mendengar suara bumi 90X130cm Rp.9jt

mana yg asli 100x140cm Rp.14jt

Gerhana 2 80x100cm Rp.12jt

Gerhana 2 80x100cm Rp.12jt

Gerhana 1 80x100cm Rp.12jt

Gerhana 1 80x100cm Rp.12jt

causa 70x90cm Rp.6jt

causa 70x90cm Rp.6jt

Carpe Diem 70x90cm Rp.10jt

Carpe Diem 70x90cm Rp.10jt

beau 140x100cm 12jt

beau 140x100cm 12jt SOLD

4 jendela 70x90cm Rp.6jt

4 jendela 70x90cm Rp.6jt

Informasi lanjut hubungi email lukisanmoses@gmail.com.

She’s still bothering my mind

Once she came, all never be the same as it was before

all just imagination, mentioned as truth, thought as reality

my whole world changed, till some day I reached her hair

never let go, never let go

Image

She’s Still Bothering My Mind, mixed oil and acrylic on canvas, 140cmX140cm, Mos Yes 2012.

The Wild Beasts, Please Live again! (I miss your painterly & strong color!)

Les Fauves (French for The Wild Beasts) were a short-lived and loose grouping of early 20th century Modern artists whose works emphasized painterly qualities and strong colour over the representational or realistic values retained by Impressionism. While Fauvism as a style began around 1900 and continued beyond 1910, the movement as such lasted only three years, 1905–1907, and had three exhibitions. The leaders of the movement were Henri Matisse and André Derain.

Matisse_-_Green_Line

Matisse_-_Green_Line

Besides Matisse and Derain, other artists included Albert Marquet, Charles Camoin, Louis Valtat, the Belgian painter Henri Evenepoel, Maurice Marinot, Jean Puy, Maurice de Vlaminck, Alfred Maurer, Henri Manguin, Raoul Dufy, Othon Friesz, Georges Rouault, the Dutch painter Kees van Dongen, the Swiss painter Alice Bailly, and Georges Braque (subsequently Picasso’s partner in Cubism).

An oil painting is painterly when there are visible brushstrokes, the result of applying paint in a less than completely controlled manner, generally without closely following carefully drawn lines. Works characterized as either painterly or linear can be produced with any painting media, oils, acrylics, watercolors, gouache, etc. Some artists whose work could be characterized as painterly are Pierre Bonnard, Francis Bacon, Vincent van Gogh, Rembrandt, Renoir, and John Singer Sargent. In watercolor it might be represented by the early watercolors of Andrew Wyeth.

In contrast, linear could describe the painting of artists such as Botticelli, Michelangelo, and Ingres, whose works depend on creating the illusion of a degree of three-dimensionality by means of “modeling the form” through skillful drawing, shading, and an academic rather than impulsive use of color. Contour and pattern are more in the province of the linear artists, while dynamism is the most common trait of painterly works.

MosF, Nop. 2010

Serial Fabel Nonsense Bagian 1: “Negeriku Kini”

Anjing Kepala 2

Anjing Kepala 2

1.

Anjing kepala dua

Mencari Naga

Kelola Negara

Tak bisa melengkung

Hanya ditelikung

Bebas terkurung

Tinggi lancung melambung

Terhempas limbung…

Karena emas pemimpin terpasung

Sisakan rakyat belatung

Satu-satu dipancung

Lupakan diri, nonsense cogito ergo sum, mendingan linglung

Anjing Ekor Buaya

Anjing Ekor Buaya

2.

Anjing penjaga berekor buaya

Pemangsa rakyat harapan bangsat

Anjing gembala harapan bangsa

Domba disikat, hukum dikerat

Anjing penjaga, anjing khianat

Wasit diterjang, tuannya diserang

Anjing bejat, anjing laknat

Tuan dijilat, tuan dilumat

Anjing kurap pemburu emas

Kejar suap peramu culas

Belatung diperas, bintang jadi pedang

Domba ditindas, seragamnya alatnya berdagang

Pelanduk Ekor Ular

Pelanduk Ekor Ular

3.

Pelanduk licik berseragam apik,

berekor ular cerdik

Waspadai jika balik berbaik-baik,

mengembik seraya kentutkan kata-kata tengik

Jika tertindas, jangan mengadu

Datang melapor kau dicekik ditipu

Wajah sendu nan apik

Berganti rupa ular munafik, bukannya dibantu, kau dicabik-cabik

Ular perayu, pelanduk memelas

Katak terjebak, kumbang ditumpas

Air susu dibalas air tuba, salah memilih salah menduga

Pelanduk manis dikira utusan surga

Ekornya mematuk, tumpahkan bisa di atas luka

Pelanduk manis prajurit neraka

Pimpin negara alas angkara

Penumpang istana halalkan dosa

4.

Keladi gatal tumbuh subur

Bersisian singkong beracun

Petani bersyukur impikan makmur

Mati mendongak di batas kebun

Pupuk habis air pun kering

Sekering janji beringin rindang

Di birunya langit mendung, angin berpusing

Pening menunggu nyatanya nyanyian bintang

Bagai air di daun talas

Talas tandas, sisakan racun keladi

Bergabung penjudi dan si culas

Bintang – Beringin seuang tiga tali,

Katanya berbeda, akhirnya sama saja

Gemar memeras banyak berdusta

Nafsu berkuasa, tebar janji-janji mantra-mantra

Saat ditagih bersalin rupa srigala

Bintang bertanduk,

beringin pun layu membara

Rerumputan hijau hangus terbakar jumawa

Lupa diri lupa segala,

akar tertipu, batang tertawa

Buah pahit terpencar,

pucuk layu racun disebar

5.

Kutu busuk diberi jubah raksasa

Memegang pedang menggenggam palu

Tikus buta menjaga kitab, kitab sakti martabat bangsa

Babi mengaum laksana singa, semua dia tahu, semua dia mau

Garuda menangis tak kuasa tanggung malu

Pedang silat lidah, sidang para penanggung tulah

Tawar menawar di balik jubah

Kitab dibakar uang bicara

Palu diketuk, bedebah pun tertawa

Hidung Hukum Pinokio Bohong

Hidung Hukum Pinokio Bohong

6.

Jika benar saja hukum Pinokio untuk dusta

Monyet-monyet pun berhidung mancung

Tak ada lagi menteri bermuka rata

Kaum pesek habis dipancung

7.

Siapa raja siapa rakyat? mana penguasa mana hamba?

Jalan negara bukan jalan raja, jalan raja jalan sang penguasa

Partai raja bukan pemilik bangsa

Partai hamba bukan pula perongrong penguasa

Sibuk berdagang kaum kusir partai

Berebut kursi, si bodoh terbantai

Partai kusir partai pedagang

Pandai bertabir simulut jalang

Berkilah kusir membawa damai

Berbujuk-bujuk pura-pura bertikai

Kuda Partai Catur

Kuda Partai Catur

8.

Bersidang kaum pewakil catur partai raja-raja

Partai segala, koalisi hitam putih

Bukan kuda bukan pula zebra

Tak kotor, tak pula bersih

Atas abu-abu bawah berkabut

Kanan tak jelas, kiri samar-samar

Pantat di muka, muka di buntut

Hati di buah zakar, nurani buyar

Koal-“isi”, koal-“kulit”

Mari bersatu bagi-bagi duit

Koal-“isi”, koal-“kosong”

Bagi-bagi kuasa lalu nyolong

Zebra loreng zebra catur

Mari mencoleng, mari kita atur

panglima loreng panglima catur

Mari mendompleng lalu kaburrrrrr……….

(ditulis tanpa alas, dari kapal tak bernama di lautan bebas tidak jelas…, MosF, 02072010)