Lukisan “4 Jendela”

Baru saja saya menyelesaikan sebuah lukisan berjudul “4 Jendela” dengan cat minyak di kanvas berukuran 70cm X 90cm.

4 jdl 20140417_185231 cc

“4 Jendela”

Dari jendela pertama kulihat merah dan putih

Merah menyerah, putih merintih

Merahnya kabur, putih pun luntur

 

Dari jendela kedua kulihat emas segunung

Ditimang-timang si Upik dan Buyung

Putra putri kaum berjaya kenyang puji dan sanjung

 

Dari jendela ketiga kulihat manusia melata

Menunggu jatuhan remah roti tuannya

Demi secuil gula, siap membunuh sesama jelata

 

Dari jendela keempat kulihat hewan hewan berdasi

Jilat kesana kemari, injak di sana tindas di sini

melumat emas dan remah roti, rakus tak terperi

 

Advertisements

“Poetry in Action” di Mingguraya, Banjarbaru

Tanggal 31 Januari 2014 malam, saya diajak rekan-rekan komunitas seni Minggu Raya Banjarbaru untuk ambil bagian dalam acara ini:

1012660_10201671115402829_1917806168_n

Secara spontan, terjadilah kolaborasi asik antara seni lukis, sastra dan lukis. Seru tak terduga.

484130_10201671135403329_1682945596_n 1620733_10201671117682886_626789167_n 1620755_10201671605095071_910215237_n

Dimulai dengan acara baca puisi oleh tim tamu dari komunitas sastra kota Tangerang, sementara kami di tepian panggung bundar Minggu Raya beramai-ramai melukis Sulistyono melukis di atas panggung, diiringi permainan musik The Soulsix dan pembacaan puisi oleh rekan Alyi Arsy. Suasana kian hidup.

1610112_10201671458211399_697697547_n

Bersama Sulistyono, kami melukis vokalis The Soulsix, bung Max the Pain. Secara keseluruhan acara yang didukung oleh Bp. Ogi Fajar Nuzuli (Wakil Walikota Banjarbaru) dan digawangi Bung Benyamin dan Ali Arsy, cs ini berlangsung meriah. Bahkan rekan-rekan sastrawan dari Tangerang sempat menggalang pengumpulan dana untuk korban banjir di Banjarbaru.

12105_609220332466908_91993998_n 923104_10201671752498756_534519725_n

Malam indah tak terlupakan. Terimakasih Banjarbaru kota tercinta.

Lagu untuk Sahabatku Ableh

Satu-satu sahabat pergi. Kemarin, Estiadi Soemadi (Ableh), meninggal dunia hari Sabtu, 15 Maret 2014. Inilah lagu untuk mengenangnya. Silakan klik pada link judul ini: Lagu untuk Ableh, atau klik foto di bawah untuk melihat video lagu.

1964984_797199710290475_1228096820_n

LAGU UNTUK ABLEH

Siapakah kita bejana nan rentan
Detik-detik terus berlalu
Silih berganti nuansa hidup manusia

Gelap terang rona bentang usia
Sesingkat embun pagi
Sia-sia sgala kemegahan
dan puja-puji gelar kemuliaan

Laksana kuali berkarat
Bejana kian retak tak berdaya
Siapakah kita bajana nan rentan

Usah jumawa, jangan memaksa
Apakah hakekat manusia.

000 teks 20131222_133910

Moses Oyes, 16 Maret 2014

BORN FREE NONSENSE

Ups, I saw my kid’s diary opened, writing about me

she said:

Once upon a time, my daddy was a hard worker,

such a brilliant rain maker.

Nothing he can’t do, worse than Midas,

he could make stones cried and dragons laughed.

Wherever he was, people happy & obey as puppy,

some because of money, others for honey.

But someday some evil hit him hard so that he lost his faith,

loosing all his magic, took out all daddy’s spirit.

Now he’s just a looser, loosing all power;

big dreamer, dreaming of going everywhere building

his own emperor from nowhere but his narrow dirty office.

God please help my daddy, heal him, release him, relief him,

or if you won’t; just take him away with You!

Suddenly I cried loud and feel free to get my wall beside me muralized :

ha ha ha… this is all about freedom

freedom to fight, freedom so that anyone could sleep

free from fear,

free from scary powerful evil in browned uniform,

with angel’s masks on their rotten face

Ugh, let ’em all burnt down tonight…

BINATANG AKU

Sadar ku kini, aku binatang

Kala belia dan harus memilih antara kerja keras menimbun emas dan kuasa atau menghimpun pengalaman, aku memilih melanglang buana tanpa tujuan

Hartaku kini adalah setimbun kepahitan dan setitik emas bernama kesadaran

Sadarku kini aku binatang,

bermulut aku hanya untuk bicara bak binatang

berotak aku hanya untuk berpikir jalang

berperut aku dan tak pernah kenyang

dan, ah… tiba-tiba seseorang memberiku pangkat, kuasa untuk berlipat-lipat lebih bejat, semakin ku bejat semakin aku kuat

belum puas pula dengan segala nikmat, tiba-tiba aku memperoleh jubah dan mimbar, lalu bicara di hadapan umat mengajarkan berlaksa-laksa hujat, semakin ku sesat, semakin aku dipuja-puji

Sadar ku kini, aku binatang tak lelah-lelah berjahat-jahat

Dibelengggu dan dibekap tak memupus lautan niat laknat, mengalir memenuhi udara, menetes di tiap titik keringat, lalu menjadi sungai beracun, siap tumpah, meresap, menguap, menyebar dan terus menular

Dapatkah cambuk merubahku? Mustahil, aku kan kian beringas!

Dapatkah jeruji mengurungku? Mustahil, di sana ku malah bebas!

Dapatkah peluru menghentikanku? Mustahil, tubuhku tak mempan senjata dan aku punya berlapis-lapis jiwa

Lalu namun ternyata kemudian, sejak lama Ia tahu aku tak punya Roh….

Pemberian Roh-Nya menaklukkan kebinatanganku

Roh itu membuatku beroleh setitik emas bernama kesadaran, kebeningan kasih yang menyadarkan bahwa aku binatang

Pantas aku terbekap, terbelenggu, meski tak sorang pun tahu tatkala aku sadar diri; belum pantas aku bebas

Biarlah tak bebas asalkan lantas menjadikanku makhluk terang.

Ungaran, 27 Januari 2011

MosF (Dalam segala ucapan syukur atas cambuk, jeruji dan belenggu dari-Nya yang menganugerahkan kebebasan sejati)

Lukisan Kesaksian & Pengakuan

DOA SYUKUR

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan merasakan kekurangan, sebab itulah aku mengerti makna bersyukur dalam kecukupan

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan berkelebihan, sebab itulah aku mengerti bahwa tak berbagi dalam kelebihan adalah kesalahan

Ampuni aku Tuhan karena menjauh dari Engkau dan terimakasih karena cobaan yang Kau ijinkan kuterima menyadarkanku…

Kini kumengerti betapa berharganya penyadaran dan betapa tak ternilainya sebuah kesadaran akan ketuhananMU!

Meski penyadaran itu berawal pahit dan kesesatan itu berawal manis, dengan kesadaran; pahit atau manis seharusnya senantiasa membuatku sadar, dan sadar membuatku senantiasa bersyukur.

 

“Muda menutup mata, tua merana”, Karya: Moses Foresto, 2010, Oil on Canvas, 110cmX140cm.

Teringat akan puisi tahun 2008, dalam bebal tak berbatas, kemunafikan merajalela… sang pendusta kembali terhilang…

DOA ANAK HILANG

Dengan cara yang lembut dan tepat, Tuhan bertindak keras kepadaku.

Ia tahu persis apa yang kuperlukan.

Seperti dinding yang kokoh pagarnya tegas pada saat aku lemah dan lelah, bukan untuk menghimpit namun menjadi penopang yang mengendalikan jalan hidupku agar tak roboh dan tersesat.

Tersesatlah aku karena tidak menghasilkan buah-buah Roh melainkan buah-buah kedagingan yang menjerat leher dan menyesatkan.

Telah kupilih sendiri,  hasilkan buah-buah dalam Roh dan kebenaran bukannya hasilkan buah-buah dosa namun tidakanku berlawanan dengan pilihanku, sebab aku lemah dan bodoh

Saat ini buah-buah dosa menjadi bebanku. Buah-buah itu mengejar dan tak rela melepaskanku.

Tamengku, Perisai yang baik telah kuretakkan dengan dosa-dosa tak terhingga, bahkan kubuang dan kutinggalkan

Sekarang saatnya aku menentukan tindakan

Menjadi seperti Kain yang mengobarkan amarah pada Tuhan dengan menyalahkan Habil serta orang benar lainnya

Menjadi seperti Saul yang mengandalkan kekuatan sendiri, mencari Tuhan dengan tidak layak dan tak berkenan

Menjadi seperti Simson yang menjadi tak taat setelah menerima berkat dan bertindak tanpa hikmat

Tidak Tuhan, jauhkan aku dari pilihan-pilihan itu, aku mau seperti Daniel yang menguduskan diri demi Allah yang hidup

Aku mau seperti Daud yang dengan hikmat menyesali perbuatannya, hidup benar, layak dan berkenan di hadapan Engkau Tuhan

Jika terlalu jauh dan berat untuk menjadi seperti Paulus, aku mau seperti Stefanus yang hidup dan mati dalam kebenaran

Tuhan, setiap kali berbuat dosa aku membukakan celah bisa dan racun mencelakakan jiwaku..

Tak terhitung kini dosa-dosaku

Tak terhitung pula racun di dalam jiwaku

Kini ya Bapaku, kuduskanlah kiranya aku dari segala macam racun itu

Dengan berperisaikan Engkau, hindarkanlah aku dari serangan Iblis.

Aku milikMu ya Tuhan

Engkau yang telah menebusku dari kesia-siaan dan membawaku kepada kemuliaan anak Raja, namun semua pernah kutinggalkan untuk hidup dalam penyiksaan dan mengarahkan hidupku pada api neraka dalam kekekalan

Ampuni aku… maafkan aku, Tuhan Yesus

Terimalah aku kembali, anak hilang yang tak tahu diri

Kini aku sadar dan mencari Engkau, ijinkan lagi aku menemukan Enkau dan menautkan diriku denganMu ya Allah.

Terimakasih Tuhan Yesus Kristus, Amin.

Ungaran, 7 Oktober 2008

IJINKAN AKU KEMBALI, BAPA…

BERI HAMBA KEKUATAN…

MESKI BERKALI-KALI TERHILANG,

TERIMALAH HAMBA KEMBALI…

Ungaran, 24 Januari 2011

SAHABATKU PERGI…

Nyong, kata mereka tadi malam kau mati
Bagiku belum, apa katamu?
Kenangan akanmu masih hangat berdarah-darah
Kurus kerempeng, gagah gayamu berdiri
Sahabat sejati, sahabat sehati kini pergi
Boleh darah daging tulangmu menyatu tanah
Persahabatan kita abadi, sejati seabadi tanah
Perih memang dan aku menangis sedih

Hanya satu yang membuatku bahagia,
di pembicaraan terakhir kita kau bicara
berserah dan bertindak dalam iman percaya
yang kan membawamu ke surga mulia
Sahabat kita di sana akan mengurusmu
Tiada lagi kuatir, tenanglah kau bersama Dia
dan jangan lupa sampaikan salamku untukNya!

(Hatiku terpenggal kau bawa ke perut bumi, tunggulah hingga nanti kita lanjutkan obrolan di alam sana) Ungaran, 7 Des. 2010.

Ikutkan 2 Lukisan di A(rt)SEM 2010

Setelah menimbang berbagai aspek, akhirnya saya memilih lukisan “Forced to be One-voiced” (Perjalanan Wajah dan Omongan Kentut) dan “Cakrabumi” untuk diikutkan pada pameran A(rt)SEM 2010, yang akan diadakan mulai 10 Desember 2010 sampai 31 Januari 2011 di Semarang.

Forced to be One Voiced, Moses F, 2009, Oil on Canvas

Forced to be One Voiced, Moses F, 2009, Oil on Canvas

Judul lain lukisan ini adalah “Perjalanan Wajah dan Omongan Kentut”. Lukisan ini berkisah tentang Pemilu 2009 di Indonesia. Wajah para tokoh berjalan-jalan kemana-mana di baliho, kaos, kalender, stiker, dan lain-lain. Sementara para juru kampanye sang tokoh, berpidato mengumbar janji dan memuji-muji tokoh junjungannya.

Cakra Bumi, Oil on Canvas, 90cm X 90cm, 2008

Cakra Bumi, Oil on Canvas, 90cm X 90cm, 2008

Sementara lukisan kedua berthema kesadaran akan kefanaan dan kekurangan diri sendiri, berangkat dari sebuah puisi berjudul sama.

karena dunia adalah fana
waktu terus berjalan
angin bertiup
daun berguguran
manusia semakin busuk
saat hidup dan setelah mati
semakin hari
forever and ever till the end of time

Kedua lukisan ini saya pilih agar sesuai dengan maksud diadakannya art-event ini. Mengutip ulasan Panitia & penggagas yang saya tangkap sebagai pokok pikiran utama A(rt(SEM 2010, sebagai berikut:
“… Tak hanya menyuguhkan hasil visual, terpenting juga mengelola proses gagasan hingga pencapaiannya.
Dengan seni mendampingi kebaruan yang terus berkembang. Aktif bersinggungan dengan public beserta pembacaan akan konflik didalamnya. Konflik ini diartikan sebagai perbedaan pola pikir manusia dalam upaya melahirkan kebaruan. Disisi lain konflik bisa berakibat fatal berbentuk anarki. Kondisi tersebut sering kita saksikan diberbagai media, baik lokal maupun internasional. Walau menurut perjalanan ideologi, anarki adalah kewajaran proses menuju kebaruan, sebagai warga yang berbudaya, kiranya lebih baik berupaya sesingkat mungkin memiliki kesadaran menuju hidup harmonis. Harmonis adalah kebiasaan publik yang bisa dilanggengkan. Selain sebagai solusi hidup damai, juga sebagai identitas berbentuk local culture semisal bagi sebuah kota. Semarang dengan multikultural etnis adalah contoh dalam hidup secara harmonis. Boleh beragam tidak untuk diseragamkan. Demi kenyamanan hidup, terbuka dengan menghargai segala macam perbedaan.”

Ungaran, 20 Nopember 2010

BLOW BLUE BLOWN!

Just finished 10 minutes ago, a gift for my own birthday… really hate it when the blue feeling come by & teasing me for her.

Yea, she’s the only one could make me so… the only felicitation that I always waiting for in every single birthday…

Hey! where’s my annual well wisher?

 

Blow Blue Blown!

Blow Blue Blown!

 

 

“Blow Blue Blown!” (Moses F, October 2010), Oil on Canvas, 95cm X 150cm.

Blue invasion… blue is everywhere,
Blue could be holy white, blue could be cool green,
Blue could be hot red, blue could be stinky yellow,
Blue could be damned tricky, blue could be traitorous,
Blue is every color, blue is daltonism,
Blue could be a film, blue could be your feeling,
Blue flu, glue blue, true blue, blue me, blew you!

(MosF, October 23rd 2010)