SELAMAT TAHUN BARU

LIVE LIFE, LEAVE LIFE, LOVE LIFE, LAUGH LIFE

Ester, my lovely wifey wife

Ester, my wizard wife...

(to EVT, my lovely love, by mosesforesto, my own mirror due to my own 2009 reflection)

each life got its own dimensions,

with almost no directions

too many edges

each has its own good faces & faeces

each consist of its own way

differ and deeper day by day

each has its own different roles

to catch the ultimate goals or just useless holes

reached or failed, just go on, let it flow

take your time wait for the blow

let the past be forgotten, here comes the brand new daylight

lapah muntung tekait-kait tepulilit, kejepit-kecetit

he he he ho ho ho

let it go, let it go

cukup!

Advertisements

Akhirnya lukisan “Panenan Mekekeh” selesai….

Inilah lukisan cat minyak berjudul “Panenan Mekekeh”, dikerjakan bersama di atas kanvar berukuran 1,5 m X 3m dengan teknik palette pada tahun 2007 dengan bimbingan guru melukis saya yang terhormat Alm. Pak Ndut Margono.  Kami mengerjakannya sebagai proses belajar langsung praktek, beliau memberi contoh di satu bidang dan saya mengerjakan di sisi lainnya, itu sebabnya kami sengaja membuat kanvas yang agak melebar.  Foto pertama memperlihatkan saat proses pengerjaan, dan foto kedua adalah lukisan setelah dibingkai dan dipajang.

Panenan Mekekeh

Melukis Panen

Teriring doa untuk pak Ndut Margono, damailah di surga.

(1+1)+1=4

(1+1)+1=4

(1+1)+1=4

CELOTEH TIGA RAJA

Raja Merak :
Akulah raja, rakyatku hamba
Aku raja, rajanya umat
Ikutilah kami, umatku beda,
Tirulah kami, rakyatku taat

Jazirahku sebaik-baiknya tanah
Tak bercacat tak bernoda
Rakyatku rakyat penyembah
Umatku umat percaya

Sebaik-baiknya warna, warna kami
Sebaik-baiknya tanah, tanah kami
Kami pemilih warna terbaik
Kami pemilik tanah terbaik

Hanya kami yang benar, lainnya salah
Hanya kami yang baik, lainnya sesat
Hanya kami yang boleh tegak, lainnya patah
Hanya kami yang suci, lainnya bejat,

Ikut, ikutlah kami, kalian kan selamat
Turuti kami, kalian tak kusesah
Tiru kami, puja-puji kau dapat
Tunduk pada kami, kalian kusembah

Raja Tega :
Rakyatku rakyat bersih tanpa cemar
Umatku umat suci mulia
Aku raja, raja terbesar
Aku raja, rajanya surga manusia

Kaumku berdarah emas
Berak emas, kencing emas, muntah emas
Umatku umat suci
Tahinya wangi, kencingnya murni

Tak ada pilihan, kecuali kami
Tak ada jalan, hanya kami
Tak ada kata tidak
Tak boleh kami kau tolak

Jamah kami kau kubelah
Cegah kami kau kubakar
Marilah, mari sembah
Sesembahan kami paling benar

Ikut kami, kalian terlindung
Turut kami, kalian aman
Tolak kami, kalian kupancung
Semua yang tak serupa kami, setan!

Raja Kodok :
Groooook… grooook… ampun, wai raja-raja
Kami hanyalah kodok
Lahir tak bisa memilih rupa
Tercipta jadi kodok groook… groook…

Hidup di dua dunia
Dunia tahan, dunia air
Tumbuh di dua alam
Alam umat durjana, alam kaum pandir

Biarlah kami tetap kodok groook… groook…
Kami yang goblok, biarlah goblok
Goblok kami bukan karna memilih, terima saja, usah berdalih
Goblok manusia, manusianya sendiri memilih

Kita memang beda, tak bisa ditolak
Kau raja merak, jadilah merak
Kau raja tega, jangan beranjak
Usah berontak, usah mendesak

Kau raja merak dan kau raja tega
Tahi kita semua tetaplah tinja
Busuk tak terperi
Kalaulah emas, kalungi sendiri, kalaulah wangi, makanlah sendiri

Kau raja merak dan kau raja tega, urus istanamu sendiri,
Baikku, baikku, baikmu, baikmu
Telingaku memilih yang kudengar, mataku memilih yang kulihat
Aku kodok, tetaplah kodok, kau merak tetaplah merak

Raja Merak dan Raja Kodok :

Dan kau manusia tetaplah mulia
Biarlah sombong dan goblok milik kaum kami
Hakikatmu wai ciptaan utama, makhluk cendekia
Usah kau berbinatang diri

Kau berpikir, kami bernaluri
Tubuhmu purna indria, jiwamu jiwa mulia, Rohmu roh sempurna
Kau terlahir bersama hak memilih, kau pula menjalani
Kami tak kuasa beralih rupa, tak kuasa berbesar jiwa

SIKLUS

tertawa dengan lelehan air mata, masa lalu menyeruak benak
hidup-lahir-mati-dikubur-hidup, selamanya teratur
selamanya tertawa pongah atau malu dikipasi tahi

yang lalu bergerak maju, masa depan melangkah mundur
teratur membawa panah menuju diriku kini

hari ini biarlah diam menerima rajam
tiada terang, tak pula kelam
tanpa siang tanpa malam
hidup hanya senja, jelang berakhir waktunya dunia
peralihan hari kedua setelah pagi penuh warna

hidup hanya punya dua masa
pagi untuk lahir dan senja untuk tahir

KEMANA

rencana,
kemana?
berhenti tunduk menekuk, sibuk duduk-duduk, meringkuk, terpuruk

bekerja, bergiat
berserah, bergiat
mulaikan gerak, tegak menanjak, merombak, melonjak

buka mata, pasang sikap
lontarkan tangan,
tundukkan gerak, tegakkan tengkuk, sibakkan cambuk

urai, lepaskan
simpul di ujung buhul, gantung
lingkarkan di leher, pisahkan kepala, buang jauh ipuh di benak dari tubuh

Ungaran, Desember 2009

PERJALANAN WAJAH & OMONGAN KENTUT

Perjalananku, perjalanan tanpa tanpa arah, tanpa jalanan
Melangkah tak seirama, bermusuhan hati dan kaki
Kaki dituntun mata kanan
Hati dituntun nurani kiri

Perjalananku dihambat jiwa, disokong mimpi gersang
Langkahku dikerat sadar, dibokong racun manis
Menyusup ke dalam celah batu karang
Hapuskan dahaga di telaga darah amis

Perjalananku hanya omong kosong dan bolak-balik peran
Ceriwis dalam diam, melimpah sumpah serapah
Tekuk lutut ditelikung jaman
Lelah menopang lesakan gairah

Perjalananku tak berjejak, upaya melepas jarak
Tak berpijak tak bertindak
Usir diri, pasrah tanpa gerak
Lari menyerah, bebaskan rasa singkapkan watak

Leganya bebas berjalan itu
Sejahat bebas itulah aku
Berkumpul angin busuk di perut lalu kentut
Biarlah muntah semua yang terhasut

Sebab kentutku maut!
Perjalanku adalah perjalanan penuh kentut
Sebab mulutku tersumbat dendam kesumat
Mampat oleh berlaksa-laksa bejat

Karena wajahku di pantat, dan pantatku di muka
Tuut… broot… pret… kentutku adalah kata-kataku tanpa makna, menyerang semua mulut
Kata-kataku adalah kata-kata katatonik, jelas maknanya, busuk bunyinya
Jangan heran, sebab aku berpikir dan berkata-kata di balik kolor butut

ps. Lukisanku itu bolak-balik, isinya bukan wajah, tapi pantat yang tertukar

“Perjalanan Wajah & Omongan Kentut” (Moses Foresto, 2009), Oil on Canvas, 107cm X 87 cm.

Sketsa Bunda

Bukan hanya darah tumpah…
Bukan hanya hati yang miris…
Bukan hanya resah gelisah…
Bukan hanya tawa dan tangis…

Ajaib kasih bunda
Tak terperi nikmat terasa
Ajaib balasan ananda
Tak terperi hujat durhaka

Ampuni hamba, masihkan ada masa
Tertebuskah segala dosa?
Inginku tetirah di telapak kaki bunda
Kuyakin masih ada surga di sana

Selamat Hari Ibu 2009! Untuk bunda dan semua wanita…

Sketsa Bunda

Sketsa Bunda