MELUKIS ITU NIKMAAAAATTTTT

This slideshow requires JavaScript.

Saat paling nikmat adalah saat melukis. Tak ada kenikmatan yang sebanding berkhayal dan mewujudkan khayalan itu menjadi kenyataan. Walaupun kenyataannya hanya berupa wujud tak jelas di selembar kanvas atau deretan kata-kata yang sulit dimaknai.

Galeri

Galeri

Saat paling kelam adalah saat lukisan selesai. Kembali ke dunia nyata, memikirkan lagi uang belanja besok, uang rokok, bensin motor bututku, spp anak-anak, pulsa yang menipis dan seabreg-abreg tuntutan lain.

25082007645

Setelah itu lukisan dipajang. Ibarat memancing, umpan sudah dilontarkan. Tinggal menunggu tanggapan. Dipajang sekian lama, buah cipta, rasa dan karsa itu tak lekang dimakan kebosanan. Khayalan itu hidup dan berpindah dari kepala-ke kepala, melontarkan daya ganggu seusil-usilnya.

My Sist, Bro & Bunda Tercinta nengok studio galeriku

My Sist, Bro & Bunda Tercinta nengok studio galeriku

Dipajang dan diatur, menunggu lirikan genit penikmatnya. Adakah yang sampai di hati. Transaksi memang ditunggu, namun pelukis bukan hanya mengikuti perut, imajinasinya lebih hidup saat terlontar apresiasi. Pijar semangat berkarya kembali menyala.

Pajang

Pajang

Baik atau buruk komentar Anda, akan sangat saya hargai.

Menunggu

Menunggu

Salam!

Advertisements

INSOMNIA

nyalang menatap malam
binatang garang merunduk kelam
meradang ditekuk alam

geram dibuai bintang
diam mengatup rahang
bergumam aku si jalang

mana yang lain?
sendiri dalam ragu
mencari-cari ketundukan

(INSOMNIA, 2009, palette, oil on canvas, 80X100cm)

INSOMNIA

INSOMNIA

SEKARANG DAN SEABAD KEMUDIAN

SEKARANG DAN SEABAD KEMUDIAN

SEKARANG DAN SEABAD KEMUDIAN

sekarang dan seabad kemudian
yang hidup tak lebih nyaman darikematian
berjenjang saling menyusul
dalam labirin bertangga
tanpa ujung, tanpa pangkal

(SEKARANG DAN SEABAD KEMUDIAN, 2009, oil on canvas, 80X100cm)

MEMBATASI DIRI

Membatasi Diri

(MEMBATASI DIRI, 2008, trapesium 120cm X 80cm X 140cm, oil on canvas) 

MEMBATASI DIRI

manusia yang pada hakekatnya terbatas
semakin rajin memagar diri
memasung kreativitas
untuk sebuah imaji
heran… menakjubkan!

Ungaran, 2008

Lukisan di atas baru saja saya perbaharui, menyesuaikan dengan keadaan sekarang. Dibanding keadaan di saat dibuatnya lukisan lama, pagar kehidupan yang sekarang lebih kuat dan banyak; sehingga perlu saya tambahkan pagar baru di lukisan ini.

Beruntunglah Anda-anda yang tidak membatasi diri dengan pagar-pagar gengsi, tuntutan status, kedudukan atau kenyamanan hidup yang membuat hidup semakin gila dan kian hari kian menggila.

Kalau Anda mau melihat versi lama lukisan “Membatasi Diri” silakan lihat gambar di bawah ini.

Terimakasih.

Membatasi Diri (versi lama)

Membatasi Diri (versi lama)

Ungaran, 4 Nopember 2010

SALIB DI TENGAH BADAI

kala banjir kemuliaan menerjang
kala banjir kehinaan mengngguncang
udara dipenuhi sihir dan khayalan
tetapkan salibNya berdiri
tegakkan kesaksian di dalam jiwa?

(SALIB DI TENGAH BADAI, 2008, mix media on canvas, 70X90cm)

SALIB DI TENGAH BADAI

SALIB DI TENGAH BADAI

KEMBANG SETAMAN

indah nian bunga warna-warni
mekar nan wangi
menggugah taman nurani
di atas tahi dan ludah

(Kembang Setaman, 2007, paletted oil on canvas, 80X100cm, Koleksi Pribadi Drs. Siswo, Deperindag, Jakarta)

KEMBANG SETAMAN

KEMBANG SETAMAN

MENOPANG TUAN BESAR

Badai Bangkai Besar

Badai besar membawa sejuta bangkai
Bangkai-bangkai kata-kata manisnya tuan-tuan pejabat berpangkat busuk
Yang 2 tahun lupa sikat gigi karena sibuk memeras, menipu lalu tertawa
Bangga, sebab lagi-lagi bangkai-bangkainya menghasilkan uang
Untuk membengkakkan perut anak isterinya (dan gundiknya)
Yang tak pernah kenyang, kecuali cacing-cacing dan belatung di perut mereka
Untuk mengenyangkan atasanya yang bangga, terus memuji
Dan menaikkan pangkat bawahannya agar lebih berkuasa
Dan leluasa memeras
“ Jatah boss, mana jatah boss “ ujarnya sambil mengakhayalkan selingkuhanya
Lalu berseru di koran-koran : “ kami menangkap lagi seekor serigala”
Serigala kurus penuh kurap meringkuk,lalu mati ersenyum, geli.
Tikus gemuk tambun terus berpesta bersama sang boss,
Lalu sepakat berucap sama-sama : ” mari ciptakan badai-badai lain “
( Supaya cacing dan belatung di perut anak isteri mereka kenyang,
muntah dan meracuni mereka dengan sejuta macam penyakit )

MENOPANG TUAN BESAR

(MENOPANG TUAN BESAR, Moses Oyes, 2009, 70X90cm, palette, oil on canvas)