About Moses

Salam persahabatan!

Terimakasih atas kunjungannya. Blog ini menampilkan lukisan dan tulisan aneka rupa.

Setiap huruf, kata-kata, kalimat, warna, goresan, bentuk-bentuk serta komposisinya merupakan suatu perlambang. Silakan memaknainya. Baik, buruk, menyenangkan, mengganggu atau apa pun interpretasi Anda semua sah-sah saja, karena makna bukan terletak pada karyanya, melainkan di dalam benak Anda. Sesuai dengan apersepsi, nilai-nilai dan norma yang Anda yakini.

Saya berterima kasih dan bangga atas bagaimana pun komentar Anda. Impresi terjadi, relasi terjalin.

Nama saya Moses. Bagi saya lukisan adalah sebuah sebuah wujud semiotika terapan sederhana. Bisa dipilih menjadi bahasa yang lebih sederhana atau lebih rumit, tergantung minat dan keperluan.

Belajar melukis secara otodidak dan formal, pernah punya guru yang membimbing langsung dalam proses pembelajaran  terstruktur; dan sedikit pelajaran mengenai sejarah seni. Setelah itu proses belajar mengalir dengan sendirinya lewat komunitas, ditambah tutorial dengan berbagai media dan cara.

Dalam melukis saya tidak membatasi diri dengan kecenderungan pada salah satu atau beberapa aliran yang dikenal, kalaupun tergolong pada salah satu atau beberapa aliran, itu terkategori secara kebetulan saja. Saya hanya melukis sekehendak hati, apa saja yang disuka dengan pilihan warna goresan dan bentuk yang dirasa cocok dengan apa-apa yang hendak disampaikan. Tapi kalau ditanya, apakah memiliki kecenderungan terhadap suatu movement tertentu? Jawabnya ya, saya sangat menyukai dan terpengaruh oleh Fauvism. Terutama ciri khas “painterliness” dan “strong color” mereka. Silakan baca posting: http://lukisanmoses.wordpress.com/?s=the+wild+beast

Soal estetika? Untuk estetika visual dan rasa, bersama dengan ketersampaian pesan; saya rasa itulah tujuan akhir lukisan saya. Yang saya utamakan adalah gugahan rasa, meski seringkali karenanya keindahan pandangan mata dikalahkan demi tercapainya gugahan rasa meski kadang berkesan rasa pahit, terlalu asin, pedas atau apa saja. Semestinya gugahan rasa dan keindahan visual adalah seiring sejajar, bukannya dua kontinum yang berlawanan; atau paling tidak resultante, kombinasi antara vektor rasa dan vektor keindahan visual. Jika itu tercapai, barulah rasanya saya berhasil menciptakan sebuah artwork. Alhasil, tone, vibrasi, ritme, unity dan harmoninya bersama dimensi yang tercipta atas hasil “capaian antara” yaitu komposisi ruang dan komposisi warna di atas bentuk-bentuk yang nyaman. Nah, di situlah saya seringkali merasa gagal. Komposisi ruang yang mulanya terkonsep purna, jadi hancur berantakan ketika warna-warna berjalan sendiri-sendiri membentuk komposisi atas nilai-nilai intrinsik mereka sendiri. Menyatupadukanya ke dalam harmoni adalah tantangan utama yang sulit diatasi. Apa boleh buat, mastery saya hanya sebegitu. Yah, tantangan lukisan abstrak dan kontemporer umumnya yang mungkin ringan buat para master, adalah gerbang baja yang masih tertutup rapat. Belum mampu saya lewati sehingga rasanya saya hanya berputar-putar di pelataran bangunan utama seni yang misterius.

Cara saya mengatasinya? hanya menutup mata, lalu berkarya, membayangkan diri seolah-olah telah terbaptis menjadi seniman sesungguhnya, ha ha ha ha….. setidaknya saya belumlah putus asa.

Pernah dulu saya memburu ilmu untuk mengatasinya, ternyata pengetahuan dan sedikit pemahaman pun bukan tiket yang sahih karena nyatanya sesuatu yang saya cari itu bukan pengetahuan yang bisa diperoleh hanya dengan buku, penjelasan atau pengajaran dari guru manapun, melainkan harus dialami dan diperoleh sendiri. Akhirnya jawaban yang saya percaya sesuai dengan pitutur para tua-tua yang paru-parunya bau minyak cat, hanya satu tiket yang sah., yaitu “JAM TERBANG YANG TERBOBOT OLEH KETEKUNAN BERKUALITAS TINGGI”.

Lama saya termenung, lalu teringatlah sebagian petikan dialog kami. Ketika saya tanya mereka, “Apa maksudnya? Apakah saya harus menunggu bertahun-tahun lagi supaya bisa ngerti melukis yang benar?”

Dijawab, “Bukan hanya tahun-tahun yang berlalu sia-sia, tapi tahun-tahun yang dilalui dengan berkarya dan berkarya dengan penjiwaan serta pengendapan sesudahnya atas apa yang telah diperoleh dari setiap karya.”

“Jadi, kesimpulannya, karya saya adalah guru juga untuk perbaikan pada lukisan berikutnya…?” tanya saya.

“Ya, oleh karena itu, belajar juga dari karya orang lain. Semakin banyak dilihat semakin baik. Semakin berbobot sang pelihat, semakin banyak juga yang bisa diperolehnya dari sebuah lukisan…”

ha ha ha… he he he… akhirnya saya benar-benar tidak lagi peduli, kecuali hanya terus berkarya; untuk mengejar mastery lewat jam terbang yang berkualitas! Kadang-kadang iri juga rasanya dengan mereka yang muda-muda, bahkan jauh lebih muda namun telah memiliki mastery jauh di atas saya. Saya percaya, itu mereka peroleh karena jam terbang mereka yang lebih tinggi dan berkualitas. Usia muda bukan berarti jam terbang mereka lebih sedikit atau berkualitas lebih rendah. Wuih, bagaimana dengan para master yang tua dan punya jam terbang lebih banyak dan lebih berkualitas? Rasa ingin tahu itu kemudian membawa saya keliling-keliling kemana-mana, melihat langsung deretan mahakarya (bahkan rela antre berjam-jam di depan museum untuk melihat beberapa lukisan kuno yang hanya diperlihatkan 4 kali dalam setahun hanya untuk memberi kesempatan lukisan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan musim & kelembaban), mengumpulkan katalog hingga bertumpuk-tumpuk di studio, dan kemudian berkunjung ke rumah para master untuk menanyakan segala kebingungan atas segala apa yang saya lihat. Ternyata mereka hanya tertawa dan berkata: “Sekarang mulailah berkarya dan teruslah berkarya sampai kamu tidak sanggup lagi berkarya…”

Ungaran, 2010

PAINTING AS A UNIVERSAL LANGUAGE

has sharper words

cuts deeper than the sharpest swords

Talks louder, means deeper,

reaches wider, echoes longer

for a polite & peaceful protesting

entertaining and also misleading

from Ungaran, Indonesia, I shout

with a mouth with no proud

stop bombing with explosives,

stop shooting and taking lives

so let’s just take your canvas

close your ears, move your brush

Here comes the painting volcanoes

angry with the dark skies

Don’t wait for another woes

burry down all those lies

because lines never really straight

as your eye sight

and colors always teasing minds

even for the blinds

September 10th, 2010

Billy & Me
Billy & Me

Bagi para pengunjung yang juga aktif melayani di gereja baik sebagi Guru Sekolah Minggu  atau sebagai orang tua yang sayang anaknya, silakan main ke: http://bahansekolahminggu.wordpress.com dan bisa  mengunduh berbagai bahan ajar anak seperti buku mewarna, buku cerita, puzzles dan berbagai pernik, termasuk bahan ajar untuk anak-anak tuna rungu.

Sebagian besar bahan-bahan tersebut, baik buku cerita klasik maupun gambar untuk mewarnai tidak tertutup hanya untuk umat Kristiani, tetapi lebih bersifat umum. Selamat mencoba.

19 thoughts on “About Moses”

  1. Ses, sebelumnya aku salah mengartikan namamu. Kukira moses itu berasal dari bahasa latin ‘musa paradisiaca’ yang artinya pisang. Jadi Moses Foresto artinta pisang hutan. Aku mengartikan namamu seperti itu waktu kita masih di SMP dulu. Sorry Ses. By the way, kenapa kamu dulu waktu SMP koq bakat melukismu tidak dikembangkan. Aku lihat kamu tidak pernah memajang lukisanmu dipameran lukisan karya siswa yang sering digelar dihalaman depan SMP kita dulu. Makanya aku nggak percaya kalau kamu itu ada bakat di seni lukis. Kalo aku tahunya kawan kita yang sangat berbakat di seni lukis dulu itu adalah Safriansyah. Ingat nggak kamu Ses? Ini aja dulu komenku. Salam.

  2. Arti namamu sangat mengagumkan,sesuai dengan talentamu yang mengagumkan dibalik kulitmu yang lumayan ireng he he he,aku sangka kamu itu taunya seputar basket aja, gak taunya hmmmmm luar biasa ses, oke deh coy aku tunggu karyamu yang diluar dari kebiasaanmu, salam akan keluarga lek lah GBU

  3. Wal semua kalimat-kalimat itu,hasil rangkaian kata-kat yang tercetus dari dalam benakmu yang lugu itukah? Aku serasa tak percaya bahwa itu adalah rangkaian kata-kata yang sangat bermakna sekali, karena yang aku tahu seorang Moses Foresto itu adalah mahluk yang lugu dan polos, sepolos gerakan anak manusia yang tidak bisa membelokkan setang Vespa ke arah kiri, tapi sekarang tentunya kamu tidak perlu turun lagi dari jok vespa apabila kamu mau berbelok ke arah kiri kan?????

  4. tak kusangka tak kukira kini kau seoarang perupa. imajinasimu selalu membalut jiwa dan raga. dulu (mungkin jg skrg) sebatang rokok tak pernah lepas dari bibirnya, walaupun itu sambil memegang bola. tak ada raga yg bisa menghalanginya, tak ada waktu yg bisa menghentikannya, tak ada kemenangan yg tak bisa diraihnya…(tak ada baju yg disetrika..he he)…,moses “oyes” foresto, sukses selalu dengan segala karyanya…

  5. Moses, bakatmu luar biasa, lukisannya bagus, kembangkan talenta ini semaksimal mungkin…sesuai dengan namamu Moses=Musa yg diberi Talenta oleh Tuhan… Good Luck GBU

  6. Congratulation, senang sekali mengunjungi blog anda yang kaya dengan lukisan kreatif (nampaknya Anda juga pernah masuk ke Blog saya http://balchibara.wordpress.com/. Teruslah berkarya beri warna dunia dengan keindahan norma, etika dan estetika. Kapan kapan kita saling berkunjung meski hanya lewat dunia maya. Trims

  7. Terima kasih, Kawan.
    Sejak kita ketemu hingga kini rasanya tak pernah Anda kecewakan perkenalan ini. Bahkan pengorbanan Anda terhadap seni rupa tak mampu kami membalasnya. Hanya doa mengiring selalu: Sukses Mas Moses, tentu.
    Salam Seni Rupa!

  8. Dear uyes, aku sungguh gak nyangka kawan kecil balita ku dulu ternyata seorang seniman lukis dan pencipta puisi yang sangat kreatif.

    Sungguh senang bisa ketemu kamu lagi, sambil mengingat-ingat masa kecil kita di mulawarman dulu, yanto yg cungkring, concon kecil, uyes yang bulet dan yanti yang nggemesin.

    Inget juga sama pak Wid yang serem tapi baik hati dan suka menyanyi, bu Wid yang lembut dan cantik (kangen bu sama kue2 natalnya), temen2 kita yang lain : halis, una, anak2 pak hery yang aku lupa namanya siapa, dll dll….

    Uyes, sungguh aku senang bisa ketemu kamu lagi.
    semoga karyamu terus mengalir….
    salam kenalku buat isteri dan anak2mu,
    juga salam kangen untuk bu Wid, yanti, concon dan yanto, entah dimana kini mereka tinggal ….

    tantri,
    eks batubenawa 10 mulawarman, skrg stay di bandung
    kapan2 kalo aku nengok mertua di semarang boleh mampir ke ungaran ya…

    1. Ha ha ha… tq byk, Mbak Tantri. Senang kalo sempat main ke Ungaran. Alamat rmh & studio di Jl. Mayjen Sutoyo No. 121 Ungaran. Tempat pajang lukisan di Jl. A. Yani No. 27 Ungaran, Kab. Semarang. Tak tunggu lho….

  9. Maaf sebelumnya ini mas Moses yang dulu pinter main basket ya…SMA 1 Bjm, mas
    kalo pulang kampung ke Banjarmasin saya mengundang mas Moses sudi kiranya mampir ke komunitas seni di pojok Minggu Raya Banjarbaru…trims salam dari banjarbaru..
    olly

  10. Kak Moses…..
    Hebat….dulu taunya jago basket aja…nda taunya pelukis juga sekarang ya…bahkan penulis …

    Senang bisa ketemu lagi di dunia maya…
    aku dah liat2 lukisan kakak… bagus…
    Sukses selalu ya kak….semoga terus membumi…salam buat klg semua…

  11. Salut! aq kd mengira ikam jadi pelukis, selama ku tau di SMASA & di Fahutan Unlam ikam pebasket tangguh…. ternyata punya darah seni yang kental, sekali lagi SALUT !

Comments are closed.

berkata-kata dengan lukisan, melukis dengan nada dan kata-kata

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: